Bank Sentral Jepang Prediksi Pengguna Cryptocurrency Libra Akan Masif

Potensi penggunaan mata uang digital yang akan dirilis Facebook itu dinilai cukup masif ke depannya, jika berhasil diluncurkan tahun depan.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 05 Juli 2019  |  16:15 WIB
Bank Sentral Jepang Prediksi Pengguna Cryptocurrency Libra Akan Masif
Koin Libra - facebook.com

Bisnis.com, BANDUNG--Bank sentral Jepang, Bank of Japan, menegaskan penerbitan cryptocurrency Libra harus memenuhi regulasi pencucian uang dan manajemen risiko.

Potensi penggunaan mata uang digital yang akan dirilis Facebook itu dinilai cukup masif ke depannya, jika berhasil diluncurkan tahun depan.

Deputi Gubernur Masayoshi Amamiya mengatakan mata uang digital tersebut harus sesuai dengan aturan yang berlaku, termasuk memiliki sistem pembayaran yang aman.

Sementara rencana Facebook terkait dengan Libra masih belum matang, Amamiya menuturkan bank sentral di dunia harus tetap waspada terhadap dampak dari pergerakan ini karena akan mempengaruhi sistem pembayaran dan perbankan di negaranya masing-masing. 

"Untuk Libra, kita harus memikirkan bahwa potensi basis pengguna global akan sangat besar," kata Amamiya kepada Reuters, Jumat (5/7/2019).

Sebulan yang lalu, Facebook mengumumkan rencananya untuk meluncurkan Libra pada paruh pertama 2020 dalam rangka memperluas bisnisnya dari sosial media ke arah pembayaran digital. 

Proyek Facebook ini telah memicu beberapa bank sentral Eropa menjadi lebih waspada untuk menilai bahwa mata uang digital tersebut tidak akan membahayakan sistem keuangan atau pun dipergunakan untuk pencucian uang. 

Bank sentral global masih belum sepenuhnya mengatur mata uang digital, setelah gagal mencapai kesepakatan pada tahun lalu.

Namun, cryptocurrency tetap menjadi salah satu aspek di bidang keuangan yang tidak memiliki aturan jelas. Adapun, respons regulator keuangan baik domestik dan internasional serta otoritas moneter terhadap proyek Libra akan memiliki dampak penting pada prospeknya.

Perubahan inovasi keuangan yang cepat mendorong bank sentral di beberapa negara untuk mempertimbangkan penerbitan mata uang digital atau setidaknya menjalankan studi kelayakan terkait hal ini ke depannya. 

Amamiya mengaku Bank of Japan tidak memiliki rencana khusus untuk menerbitkan mata uang digital saat ini karena pihaknya belum mengetauhi seberapa jauh pengaruh ketidakpastian pengunaan mata digital terhadap bank konvensional. 

"Jika mata uang digital yang diterbitkan bank sentral menggantikan deposito, maka ini akan menggerus kanal kredit komersial perbankan dan memiliki dampak negatif terhadap ekonomi," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jepang, cryptocurrency

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top