GP Ansor: Idul Fitri Saatnya Ciptakan Persatuan Indonesia

Gerakan Pemuda (GP) Ansor mengajak masyarakat menggunakan momentum Idul Fitri kembali bersatu dalam naungan Indonesia.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 05 Juni 2019  |  14:22 WIB
GP Ansor: Idul Fitri Saatnya Ciptakan Persatuan Indonesia
Sejumlah kader GP Ansor melaksanakan shilat Istisqa di Halaman Markas di Jakarta, Jumat (30/10/2015). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA--Gerakan Pemuda (GP) Ansor mengajak masyarakat menggunakan momentum Idul Fitri kembali bersatu dalam naungan Indonesia.

Mengutip dari laman NU, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor H Yaqut Cholil Qoumas mengajak masyarakat Indonesia agar kembali bersatu dalam naungan Indonesia. "Mari kita pergunakan Idul Fitri ini sebagai momentum untuk kembali mempersatukan Indonesia," katanya seperti dikutip dari website NU, Rabu (5/6/2019).

Menurutnya, Idul Fitri ini harus dilihat sebagai antitesa atas perpecahan dan konflik yang terjadi akibat perseteruan politik yang tak kunjung selesai. Kehadiran Idul Fitri menjadi momen persatuan dengan pengakuan atas segala kekhilafan demi Indonesia yang lebih maju ke depan.

"Kita datang saling memaafkan. Kita datang saling mengakui kekhilafan sehingga kita kembali bersatu dan kembali mewujudkan Indonesia maju, Indonesia yang lebih besar dan Indonesia yang lebih membanggakan," ujarnya.

Lebih dari itu, Gus Yaqut, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa Idul Fitri ini bukan hanya menjadi sebuah perayaan keagamaan belaka, tapi juga menjadi sebuah perayaan kebudayaan. Bahkan, katanya, tidak hanya dirayakan oleh umat Islam saja, tapi juga oleh masyarakat Indonesia lintas agama.

"Kita bisa lihat seluruh pelosok negeri ini bagaimana orang datang saling maaf-memaafkan meskipun mereka berbeda agama. Biasa mengunjungi saudara-saudara muslim dan sebaliknya untuk saling memaafkan dan ini hanya ada di Indonesia," ungkapnya.

Sebab, Islam merupakan ajaran yang universal. Islam, jelasnya, tidak mengatur secara teknis dan detail terutama dengan hal-hal yang berkaitan dengan muamalah. Hal itu dipasrahkan oleh Islam dalam sebuah kearifan lokal.

"Islam menyerahkan aksesori keindahannya kepada kearifan-kearifan lokal. Di Indonesia ini, kita mengenal kearifan lokal yang namanya Pancasila. Tidak bisa dipertentangkan antara agama dan Pancasila," terang putra KH Cholil Bisri itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gp ansor

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top