LAPORAN DARI BOSNIA: Gurihnya Garam dari Pegunungan Tuzla

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, kedatangan Kekaisaran Ottoman menjadi titik awal produksi di wilayah Tuzla menjadi lebih terorganisasi dan ditujukan untuk perdagangan. Sekitar periode 1548, kekaisaran itu mengatur sistem yang memungkinkan individu untuk mengeksploitasi garam selama mereka menjual sebagian produknya ke Bosnia Herzegovina.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 27 April 2019  |  08:30 WIB
LAPORAN DARI BOSNIA: Gurihnya Garam dari Pegunungan Tuzla
Papan penunjuk jalan menuju kota Tuzla - Bisnis.com/Nurhadi

Bisnis.com, TUZLA— Dengan panjang laut hanya 20 kilometer ke Laut Adriatik, Bosnia Herzegovina mampu menjadi eksportir garam ke sejumlah negara Balkan. Komoditas itu bukan berasal dari laut seperti yang banyak ditemukan di Indonesia melainkan dari tambang garam kawasan pegunungan Tuzla.

Dalam rangkaian Business Matching yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Sarajevo, Bosnia Herzegovina, 25 April 2019--27 April 2019, Bisnis berkesempatan mengunjungi Tuzla, kota yang terletak 125 kilometer (km) dari Ibu Kota Sarajevo. Komoditas garam menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari sejarah kota tersebut.

Sejumlah delegasi dari Indonesia seperti Duta Besar Indonesia untuk Bosnia Herzegovina Amelia Achmad Yani, Direktur Eropa III Kementerian Luar Negeri Ardian Wicaksono, Direktur Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Budapest Addy Perdana Soemantry, dan Muhammad Fauzi Nasution, President Commissioner PT Sumatera Siberia Kompaniya turut mengikuti perjalanan yang ditempuh sekitar tiga jam dari Sarajevo.

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, kedatangan Kekaisaran Ottoman menjadi titik awal produksi di wilayah Tuzla menjadi lebih terorganisasi dan ditujukan untuk perdagangan. Sekitar periode 1548, kekaisaran itu mengatur sistem yang memungkinkan individu untuk mengeksploitasi garam selama mereka menjual sebagian produknya ke Bosnia Herzegovina.

Tuz sendiri dalam bahasa Turki berarti garam. Oleh karena itu, tidak salah apabila menyebut Tuzla sebagai kota garam.

Kedatangan Kekaisaran Austro-Hungaria di Bosnia Herzegovina pada 1878 menandai proses industrialisasi. Para penguasa pun mendirikan monopoli atas garam dan memumulai pembangunan pabrik pertama di Simin Han, wilayah timur Tuzla.

Pada 1885, pabrik Simin Han dibuka, bertetapatan dengan dimulainya produksi, Solana, produsen garam Bosnia Herzegovina yang berbasis di Tuzla.

Produksi industri garam berkembang pesat pada fase awal. Hal itu sejalan dengan penemuan sejumlah situs atau tambang garam baru di wilayah Tuzla. Total produksi garam menembus 20.288 ton pada 1905.

Melewati berbagai masa kekuasaan, termasuk Kerajaan Yugoslavia hingga Perang Dunia I dan II, Solana tetap menjalankan produksinya. Sampai saat ini, perseroan masih melakukan penambangan dan memproduksi sejumlah jenis garam.

Dalam kunjungan Bisnis ke salah satu tambang garam milik Solana di Tuzla, proses penambangan dilakukan dengan memasukkan air ke dalam pipa drilling. Kemudian, air tersebut mendorong garam keluar dari perut bumi lalu dialirkan menggunakan pipa ke bawah untuk diproses menjadi garam.

Manajemen Solana mengklaim bahwa kandungan natrium klorida (NaCl) dari garam tersebut mencapai 99%. Kualitas tersebut diklaim menjadi yang terbaik saat ini.

Mengutip informasi dari laman resmi Solana, saat ini perseroan memproduksi dan mengolah semua macam garam beryodium yang dapat dikonsomsi untuk industri makanan, roti, dan daging. Selain itu, garam non-yodium digunakan untuk industri kimia, tekstil, dan pembuatan kulit.

Saat ini, Solana bekerja sama dengan distributor dan importir umum yang tersebar di Bosnia Herzegovina, Slovenia, Serbia, Kroasia, Macedonia, Montenegro, dan Kosovo.

Perkembangan industri garam juga membawa Tuzla sebagai kota yang identik dengan kawasan industri. Wilayah itu juga tercatat memiliki bandara yang terhubung dengan sejumlah negara seperti Jerman dan Swedia.

Selain kawasan industri, Tuzla menjadi pusat universitas dengan total sekitar 18.000 mahasiswa dengan total sekitar 13 fakultas. Lokasi bekas tambang garam di dekat kota pun telah disulap menjadi danau tempat warga menghabiskan waktu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bosnia-Herzegovina

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup