Akurasi Quick Count : Selama Ini Belum Pernah Dinyatakan Salah

Hasil penghitungan suara bisa diketahui melalui metode perhitungan cepat atau quick count sebelum KPU mengumumkan secara resmi hasil Pemilu. Seberapa akuratkah penghitungan berdasarkan quick count?
Maria Elena | 20 April 2019 22:21 WIB
Anggota PPLN Beijing melakukan penghitungan surat suara Pemilu 2019 yang dikirimkan oleh para pemilih WNI dari berbagai daerah di China melalui pos di KBRI Beijing, Rabu (17/4/2019). - ANTARA/M. Irfan Ilmie

Bisnis.com, JAKARTA - Dalam penghitungan suara dikenal metode hitung cepat atau quick count. Di Indonesia sebelum KPU mengumumkan secara resmi hasil Pemilu, hasil quick count sudah keluar terlebih dahulu.

Lantas seberapa akuratkah penghitungan berdasarkan quick count?

Analis komunikasi politik sekaligus founder KedaiKOPI Hendri Satrio mengatakan hasil perhitungan suara berdasarkan quick count belum pernah dinyatakan salah.

"Data quick count itu tidak bohong, data quick count itu jujur dan apa adanya," kata Hendri Satrio, Sabtu (20/4/2019).

Hendri menjelakan, dalam perhitungan quick count, enumerator langsung datang ke tempat pemungutan suara (TPS) dan mencatat hasil suara masing-masing kandidat dan partai politik yang tertera di papan tulis.

Hendri menegaskan jika terjadi penggiringan suara atau kecurangan, itu terjadi bukan di tahap quick count, bisa jadi saat proses pemungutan suara berlangsung.

Co-Founder Ayo Jaga TPS M James Falahudin mengatakan sebagai salah satu lembaga survei, dalam melakukan perhitungan cepat, Ayo Jaga TPS melakukan validitas data.

James menjelaskan yang paling dasar yang dilakukan oleh Ayo Jaga TPS adalah memastikan data C1 benar-benar disubmit oleh pemilih yang datang ke TPS.

"Kami terpaksa meminta data NIK dan foto KTP untuk memastikan data itu dari yang benar-benar hadir," jelasnya, Sabtu (20/4/2019).

James melanjutkan, melalui aplikasi yang sudah diunduh sekitar 470.000 orang, data yang dikumpulkan sudah mencakup seluruh provinsi di Indonesia dengan jumlah sekitar 500 kabupaten/kota.

Bahkan, Hendri menambahkan, Ayo Jaga TPS mempekerjakan 50 orang untuk melakukan verifikasi data melalui panggilan telepon sehingga bisa memastikan data yang dikumpulkan bisa dipertanggungjawabkan.

Peneliti Senior Network for Democracy and Electoral Integrity (Netgrit) Ferry Kurnia Rizkiansyah menjelaskan Netgrit memiliki program menjaga suara di TPS, yaitu Kawal Pemilu Jaga Suara, yang bekerja sama dengan berbagai komunitas dan lembaga, salah satunya Komunitas Kawal Suara.

Ferry menjelaskan perhtungan cepat dilakukan dengan mekanisme memantau proses penghitungan suara, foto C1, kemudian data tersebut di-entry.

Hingga saat ini, sudah ada sekitar 82ribu TPS yang datanya sudah masuk ke Netgrit dari sekitar 11 juta TPS yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Teman-teman relawan melakukan upload C1 dan data inilah yang di-entry oleh Netgrid, itu yang kita upayakan untuk menjaga integritas proses," kata Ferry.

Namun, Ferry mengatakan, meskipun hasil quick count telah terpampang, penting untuk tetap menunggu hasil perhitungan resmi dari KPU yang kini tengah melakukan rekapitulasi.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
quick count, Pilpres 2019

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup