Standard Chartered Berencana Menghemat US$700 juta hingga 2021

Standard Chartered Plc akan memotong beban biaya hingga US$700 juta sebagai bagian dari rencana bisnis baru yang berlaku selama tiga tahun.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  16:30 WIB
Bisnis.com, JAKARTA -- Standard Chartered Plc akan memotong beban biaya hingga US$700 juta sebagai bagian dari rencana bisnis baru yang berlaku selama tiga tahun.
Bank peminjam asal Inggris yang berfokus pada pasar negara berkembang mengambil langkah ini sebagai tujuan untuk menenangkan kekhawatiran investor atas nilai pengembalian ekuitas yang kurang baik.
CEO Standard Chartered Bill Winters mengumumkan rencana pengurangan biaya dan peningkatan profitabilitas, sambil berusaha membawa perusahaan keluar dari tekanan yang menyebabkan pelemahan neraca hingga serangkaian penalti dari regulator. 
Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg Television pada Selasa (26/2), Winters mengatakan bahwa setelah tiga tahun 'membersihkan' Standard Chartered, fokusnya kini adalah meningkatkan pengembalian ekuitas menjadi 10% pada 2021, atau dua kali lipat dari tahun lalu.
"Saya merasa saat ini kami sedang melalui proses restrukturisasi yang sangat berat namun perlu dilakukan untuk menyelamatkan bank. Tapi kita tahu harus ada langkah lanjutan yang diambil untuk membuka jalan potensi pengembalian mencapai 10% atau lebih," ujar Winters, seperti dikutip melalui Bloomberg, Selasa (26/2).
Investor menyambut baik berita tersebut diikuti dengan peningkatan saham yang terdaftar di Hong Kong sebesar 2,3% pada pukul 3:33 malam waktu setempat.
Reaksi tersebut akan menjadi dorongan bagi Winters, yang telah berusaha membuktikan bahwa dia dapat menghidupkan kembali pertumbuhan pendapatan jangka panjang.
Meskipun sebagian keberhasilannya tergantung pada seberapa baik dia merestrukturisasi operasional di empat negara di Asia dan Timur Tengah.
Sebelumnya, Standard Chartered mengatakan laba sebelum pajak pada 2018 naik 28% menjadi US$3,86 miliar, atau sedikit lebih rendah dibanding dengan perkiraan konsensus sebesr US$3,98 miliar yang disusun oleh bank.
Pendapatan operasional (underlying) selama setahun penuh naik 5% menjadi US$14,97 miliar, lebih rendah dari perkiraan US$15,02 miliar.
Unit private banking Standard Chartered melaporkan kerugian sebelum pajak (underlying) meningkat tajam menjadi sebesar US$14 juta pada 2018, dibandingkan dengan kerugian sebesar US$1 juta pada tahun sebelumnya.
Winters menambahkan, dia berencan untuk mengeliminasi hambatan residu dari pasar di negara-negara dengan nilai pengembalian yang rendah antara lain India, Korea Selatan, Uni Emirat Arab dan Indonesia.
Dia tidak memberikan banyak detail tentang rencananya untuk pasar-pasar tersebut, tetapi Winters menyampaikan bahwa rencana tersebut dapat mencakup potensi kemitraan dengan perusahaan teknologi dan e-commerce untuk pengembangan perbankan ritel.
Pada perkembangan terbaru, Standard Chartered menyatakan bahwa rencana joint venture di PT Bank Permata Tbk., tidak lagi menjadi agenda inti perusahaan, hal ini menandakan bahwa Winters mungkin tengah bersiap untuk melepaskan sahamnya.
Standard Chartered mengatakan pada pekan lalu, bahwa mereka menarik dana sebesar US$900 juta pada kuartal IV/2018 untuk menutup potensi penalti dari AS dan Inggris, termasuk denda sebesar 102 juta pound atau senilai US$133 juta yang dikenakan oleh regulator keuangan Inggris terkait dengan kontrol kejahatan finansial.
Departemen Kehakiman AS memperpanjang perjanjian jangka panjang dengan Standard Chartered atas tuduhan bahwa bank memproses transaksi secara ilegal atas nama Iran.
Washington memberi kan waktu tambahan tiga bulan sementara bank berada di bawah pengawasan eksternal pada Desember.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
standard chartered

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top