Suplier Johnson & Johnson Ajukan Bangkrut

Pemasok utama bedak yang digunakan dalam produk bedak bayi Johnson & Johnson mengajukan Bab 11 Kebangkrutan pada Rabu (13/2) setelah tuntutan hukum senilai miliaran dolar menuduh produknya telah menyebabkan kanker ovarium dan mesothelioma akibat kandungan asbestos.
Nirmala Aninda | 14 Februari 2019 20:08 WIB
Bisnis.com, JAKARTA -- Pemasok utama bedak yang digunakan dalam produk bedak bayi Johnson & Johnson mengajukan Bab 11 Kebangkrutan pada Rabu (13/2) setelah tuntutan hukum senilai miliaran dolar menuduh produknya telah menyebabkan kanker ovarium dan mesothelioma akibat kandungan asbestos.
Imerys Talc America, unit AS dari grup perusahaan asal Prancis, Imerys SA, mengatakan pihaknya mengajukan kebangkrutan karena tidak memiliki kekuatan keuangan untuk melawan hampir 15.000 tuntutan hukum atas produk mineral taleknya.
Imerys mengatakan bahwa meskipun terus percaya bahwa tuntutan hukum terserbut tidak berdasar, prospek lonjakan beban penyelesaian kasus hukum selama beberapa tahun ke depan mendorong keputusan perusahaan untuk mengajukan kebangkrutan.
Mereka juga mengutip vonis jutaan dolar terhadap Johnson & Johnson dan perhatian media berikutnya sebagai faktor yang menyebabkan pengajuan Bab 11.
"Setelah dengan hati-hati mengevaluasi semua opsi terbaik, kami memutuskan bahwa mengejar perlindungan Bab 11 adalah tindakan terbaik untuk menjaga produk talek bersejarah kami," kata Imerys Talc America dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip melalui Reuters, Kamis (14/2).
Dua anak perusahaan Imerys yang berbasis di Amerika Utara, Imerys Talc Vermont dan Imerys Talc Canada, juga mengajukan Bab 11 pada hari Rabu.
Mark Lanier, seorang pengacara yang berbasis di Texas mewakili lebih dari 11.700 penggugat yang menuntut produk talek Imerys. Lanier menegaskan kebangkrutan Imerys Talc America tidak akan mengubah litigasi.
"Kami selalu menargetkan J&J dan Colgate Palmolive, perusahaan-perusahaan yang memasukkan asbes ke dalam produk mereka," kata Lanier.
Reuters pada 14 Desember 2018, menerbitkan laporan terperinci yang menjelaskan bahwa kandungan talek pada produk bedak mentah maupun produk jadi beberapa kali menunjukkan hasil positif saat dilakukan tes terhadap kandungan asbes dalam jumlah kecil sejak 1970-an hingga awal 2000-an.
Namun hasil tes ini tidak diungkapkan kepada regulator atau konsumen. J&J menegaskan bahwa produk bedak talek mereka tidak mengandung asbes.
Strategi yang dilakukan Imerys, dengan mengajukan bangkrut, merupakan cara yang sering dilakukan oleh banyak perusahaan yang sedang dihadapi oleh  isu litigasi terhadap cacat pada produk.
Sebelumnya pada Juli tahun lalu, juri di pengadilan Missouri memerintahkan J&J untuk membayar denda sebesar US$4,69 miliar kepada 22 wanita yang mengatakan asbes pada produk talek mreka telah menyebabkan kanker ovarium.
Imerys dan J&J telah berulang kali membantah tuduhan itu dan mengatakan banyak penelitian dan tes oleh regulator di seluruh dunia telah menunjukkan bahwa produk talek mereka aman.
J&J menolak untuk mengomentari pengajuan Bab 11 Imerys Talc America.
Tag : johnson&johnson, bangkrut
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top