Akurasi Pemberitaan Bencana Kurangi Imbas Negatif ke Pariwisata

Akurasi jurnalis dalam memberitakan bencana alam yang terjadi pada suatu wilayah akan sangat membantu mengurangi dampak bencana tersebut pada sektor pariwisata.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 09 Februari 2019  |  06:01 WIB
Akurasi Pemberitaan Bencana Kurangi Imbas Negatif ke Pariwisata
Gunung Agung di Bali meletus, terlihat dari Desa Bugbug di Karangasem pada Selasa (3/7/2018). - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menyebut akurasi jurnalis dalam memberitakan bencana alam yang terjadi pada suatu wilayah akan sangat membantu mengurangi dampak bencana tersebut pada sektor pariwisata.

Menurutnya, berbagai musibah bencana alam mulai dari erupsi gunung, gempa bumi, dan tsunami yang terjadi di destinasi pariwisata Tanah Air belakangan ini membawa dampak besar terhadap sektor pariwisata dengan turunnya kunjungan wisman dan perolehan devisa.

“Begitu muncul bencana, media gencar memberitakan kemudian diikuti 'travel advice' dari negara-negara sumber wisman. Bila pemberitaan bencana tersebut cepat dan akurat akan mengurangi dampak negatif pada pariwisata,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (8/2/2019).

Menteri Pariwisata Arief Yahha melaunching buku "Jurnalisme Ramah Pariwisata" saat acara Gala Dinner yang merupakan rangkaian dari kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) 2019 di Surabaya, Kamis (7/2) malam.

Menpar meluncurkan buku tersebut bersama Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Auri Jaya, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Atal S. Depari, serta sejumlah tokoh pers nasional antara lain Ishadi SK, Margiono, dan Ilham Bintang.

Menpar Arief Yahya memberikan apresiasi terhadap peluncuran buku yang diiniasi SMSI bersama Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tersebut.

"Buku ini dapat dijadikan pedoman bagi kalangan pers dan masyakat khususnya warganet dalam memberitakan peristiwa bencana agar tetap ramah pariwisata. Buku tersebut menawarkan perspektif etis tentang bagaimana pers memberitakan pariwisata dan isu-isu terkait lainnya," katanya.

Refleksi G. Agung

Bencana erupsi Gunung Agung Bali pada 2017 membawa dampak pada turunnya kunjungan hingga mencapai 1 juta wisman dengan pengeluaran sebesar US$1 miliar.

“Bencana erupsi Gunung Agung 2017 membuat banyak negara mengeluarkan travel advice dengan dampak yang berbeda-beda. Travel advice yang dikeluarkan pemerintah Tiongkok 100% diikuti wisatawannya atau warga negaranya, sedangkan Australia hanya 20%,” kata Arief.

Saat terjadi erupsi Gunung Agung di Bali misalnya, pihaknya sempat melayangkan permintaan secara khusus kepada Pemerintah Tiongkok agar segera mencabut travel advice bagi warga negaranya yang akan bepergian khususnya ke Bali.

"Dalam pembicaraan dengan pejabat Tiongkok, mereka minta agar penetapan darurat Bali dicabut. Pengalaman atas peristiwa tersebut terkait dengan pemberitaan darurat sehingga jurnalis dituntut menyajikan beritanya dengan akurat, melokalisasi kejadian hanya di tempat perkara sesuai ketentuan BNPB dan bukan meluaskannya seakan seluruh Bali darurat bencana," ucap Arief.

Imam Wahyudi, Anggota Dewan Pers menuturkan, pemberitaan bencana yang akurat harus dikedepankan karena hal itu menjadi bagian profesionalitas para jurnalis untuk menjunjung tinggi etika dan kode etik jurnalistik.

“Di era media digital, kecepatan dan akurasi itu merupakan potongan dan irisan antara etika dan misi media,” tuturnya

Misi media terkait dengan nilai bisnis, dimana bagi media online misalnya akan terlihat dari view atau rating pembaca, sementara etika mengedepankan pemberitaan yang berimbang dan jelas.

"Pada dasarnya jurnalisme berjalan sesuai dengan kaidahnya,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pariwisata, bencana alam, jurnalis

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top