Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Government Shutdown AS Terus Berlangsung, The Fed Kesulitan Kumpulkan Data

Penutupan parsial pemerintahan (government shutdown) Amerika Serikat menyulitkan The Fed menghimpun data ekonomi yang krusial dalam proses pembentukan kebijakan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 23 Januari 2019  |  19:46 WIB
Bank sentral AS The Federal Reserve - Reuters/Larry Downing
Bank sentral AS The Federal Reserve - Reuters/Larry Downing

Bisnis.com, JAKARTA – Penutupan parsial pemerintahan (government shutdown) Amerika Serikat menyulitkan The Fed menghimpun data ekonomi yang krusial dalam proses pembentukan kebijakan.

Laporan terkait pertumbuhan ekonomi, ketenagakerjaan, belanja masyarakat, dan inflasi merupakan data penting untuk menghitung realisasi dan proyeksi pertumbuhan ekonomi.  Namun, seiring shutdown masih terus berlanjut, bahkan menjadi yang terlama sepanjang sejarah AS, menjadi menghambat bank sentral untuk mengumpulkan data dan membuat laporan.

"[Shutdown] mengaburkan gambaran kondisi ekonomi pada akhir 2018 dan pada awal 2019. Kondisi ini menambah satu lagi alasan bagi The Fed untuk bersabar," ujar Kepala Ekonom JPMorgan Chase & Co. Michael Feroli yang juga pernah bekerja di The Fed, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (23/1).

Data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) akan dirilis pada 30 Januari 2019 dan sejumlah laporan dari Departemen Perdagangan juga dipastikan akan terlambat. Sejumlah laporan seperti penjualan ritel dan data perumahan (housing start) berpotensi ikut terlambat. Namun, klaim pengangguran dipastikan tepat waktu dengan jadwal rilis pada 24 Januari 2019.

Di sisi lain, para petani tidak mendapatkan laporan terkini terkait jumlah pasokan dan permintaan hasil produksi terkini dari Departemen Pertanian. Analis komoditas besi tidak memiliki data terkait kebijakan bea cukai terbaru untuk melakukan impor.

Sementara itu para pedagang valuta asing tidak memiliki panduan jual beli yang biasanya dirilis oleh Komisi Perdagangan Komoditas Berjangka, yang membantu mereka menavigasi pasar mata uang dengan transaksi mencapai US$5,1 triliun per hari.

Gangguan tersebut sangat problematis bagi The Fed saat ini, karena pembuat kebijakan tengah berada pada posisi puncak siklus kenaikan suku bunga acuan. Dalam periode ini, data terkini jauh lebih bermanfaat jika dibandingkan dengan kerangka kerja teoritis.

Sebagai pengingat, pada tahun lalu kondisi ekonomi juga memberikan sinyal yang membingungkan bagi pasar. Saat itu pasar tenaga kerja dan data pengeluaran masyarakat terlihat kuat.

Sementara itu, perlambatan pertumbuhan global, ancaman perang dagang, dan shutdown telah memberikan efek negatif terhadap proyeksi ekonomi. Pada saat yang sama data pertumbuhan perumahan terbebani oleh kenaikan beban pinjaman dan kenaikan harga jual.

"Kesenjangan data dapat diartikan bahwa saat ini ekonomi kita sedang diambang ketidakpastian dan hal ini akan menyulitkan bagi kebijakan moneter," ujar William English, seorang profesor ekonomi di Yale University dan mantan penasihat senior di Bank Sentral AS.

Para pembuat kebijakan The Fed beberapa waktu lalu mengindikasikan bahwa mereka akan menahan kenaikan suku bunga acuan yang sebelumnya dijadwalkan secara kuartalan.

Analis memperkirakan The Fed tidak akan melakukan aktivitas penting apapun selama beberapa bulan ke depan akibat hambatan dari laporan yang terlambat dan kurangnya data ekonomi komprehensif.

Namun, The Fed tidak sepenuhnya kekurangan data. Departemen Tenaga Kerja yang masih menerima anggaran akan tetap merilis laporan sesuai jadwal, termasuk lapangan kerja dan indeks harga konsumen, yang menunjukkan inflasi relatif terkandung di bulan Desember.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kebijakan The Fed
Editor : Gita Arwana Cakti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top