Mengenang Bambang Widodo Umar, Pahlawan Dalam Pembajakan Pesawat Merpati 1972

Almarhum yang merupakan pengamat kepolisian dan dikenal atas jasanya menggagalkan pembajakan pesawat pertama di Indonesia ini meninggal saat menjalani perawatan di ICU Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 15 Januari 2019  |  01:13 WIB
Mengenang Bambang Widodo Umar, Pahlawan Dalam Pembajakan Pesawat Merpati 1972
Karangan bunga dan personel kepolisian berjaga di kediaman almarhum Bambang Widodo Umar, Kriminolog UI yang tutup usia, Senin (14/1/2019) - Bisnis/Aziz R

Bisnis.com, JAKARTA — Bambang Widodo Umar, Kriminolog Universitas Indonesia (UI) tutup usia, Senin (14/1/2019) pagi, sekitar pukul 07.15 WIB.

Almarhum yang merupakan pengamat kepolisian dan dikenal atas jasanya menggagalkan pembajakan pesawat pertama di Indonesia ini meninggal saat menjalani perawatan di ICU Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur. 

Kini menurut pantauan Bisnis, kediamannya di Jl Jeni no 8, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan telah ramai karangan bunga dari para petinggi Polri. Beberapa personel kepolisian pun terlihat menjaga di jalan dan sekitar rumah Almarhum yang pernah menjadi anggota kepolisian sejak 1971 hingga 2001 ini.

"Dari Polri akan membantu pemakamannya," ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo.

Rencananya, Almarhum akan dimakamkan pukul 14.30 setelah disalatkan di Masjid Nurul Yaqin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Kisah Heroik Perwira Muda Polisi

Walau mengabdikan masa tuanya untuk mengajar, kisah heroik Almarhum ketika menggagalkan pembajakan Merpati Nusantara Airlines pada 5 April 1972 kini dikenang kembali.

Almarhum Bambang, ketika itu masih menjadi perwira muda kepolisian Koresko 961 (Komando Resort Kepolisian Kota) Yogyakarta. Seorang alumni Akabri Kepolisian tahun 1971 yang baru 5 bulan lulus ini ikut ditugaskan membebaskan pesawat baling-baling Vickers Viscountmilik jalur penerbangan Manado-Makassar-Surabaya-Jakarta, yang dibajak sehingga dipaksa mendarat dengan mesin menyala di apron Bandara Adisucipto Yogyakarta.

Beberapa anggota kepolisian dan tim gabungan di bawah pimpinan Letnan Kolonel Polisi Sujono telah berada di ruang operasi bandara untuk membicarakan strategi pembebasan sandera. Tetapi Bambang merupakan perwira intel yang berpakaian preman sehingga tak diizinkan masuk bandara.

Bambang pun melewati jalan memutar tersembunyi untuk mendekati pesawat. Bambang hanya mendapatkan informasi dengan mencuri dengar percakapan tim gabungan bahwa pembajak bernama Hermawan yang merupakan anggota Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) meminta tebusan Rp20 Juta dengan mengancam akan meledakkan pesawat.

Pengamatan tajam Bambang melihat jendela kokpit yang membuka dan menutup dalam waktu tertentu. Ketika jendela membuka, bayang-bayang pembajak hilang. Sebuah tangan pun menjuntai keluar, melambai-lambai.

Inilah saat-saat dimana insting seorang polisi bertindak. Bambang menuju arah moncong pesawat berbekal Revolver Colt Special di pinggangnya. "Saya AURI, saya AURI, saya bisa menembak,” ujar pilot Kapten Hindiarto yang ketika itu berteriak lirik ke Bambang.

Bambang pun secara reflek memberikan pistolnya kepada sang pilot. Suasana tegang itu berlangsung lima menit lamanya. Mendadak co-pilot dan pilot turun dari pesawat dengan tergesa-gesa. Ternyata tembakan telah dilepaskan dan pembajak tewas di tempat.

Atas jasanya tersebut, pria kelahiran Ngawi, Jawa Timur, 10 Desember 1947 ini mendapat dua penghargaan yakni Setya Lencana dan Setya Lencana Dwija Sista 3.

Bertahun setelah peristiwa tersebut, Bambang mengambil program Master Sosiologi, Universitas Padjajaran, Bandung pada 1992 dan mendapatkan gelar Doktor di universitas yang sama pada 1995.

Setelah itu Almarhum mengabdikan dirinya sebagai akademisi, serta aktif memberikan pandangan-pandangannya di bidang kriminologi dan ilmu kepolisian untuk memajukan salah satu pilar penegakan hukum di Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pembajakan, pahlawan

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top