Indonesia Dinilai Berhasil Hadapi Turbulensi Global

Indonesia melakukan upaya simultan dari dalam negeri dan luar negeri secara simultan sebagai upaya untuk menstabilkan ekonomi.
Newswire | 22 Oktober 2018 14:53 WIB
Ilustrasi - istimewa

Kabar24.com, JAKARTA - Indonesia melakukan upaya simultan dari dalam negeri dan luar negeri secara simultan sebagai upaya untuk menstabilkan ekonomi.

Dari dalam negeri dilakukan pembangunan infrastruktur yang berbasis memajukan perekonomian rakyat luas, kebutuhan sembako tercukupi, menekan inflasi, fiskal sehat, utang luar negeri terjaga, dan utang pemerintah prudent. 

Dari luar negeri stabilitas ekonomi dilakukan melalui partnership antara lain dengan negara China, Singapura, dan Jepang. 

Demikian penjelasan Ketua Wantimpres Sri Adiningsih dalam ceramah bertema Kekuatan Perekonomian Indonesia di Tengah Turbulensi Ekonomi Global pada seminar nasional yang diselenggarakan Program Pascasarjana Universitas  Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Sabtu (20/10) di Kampus II Moestopo, Bintaro. 

Hadir dalam seminar beberapa pejabat struktural Universitas Moestopo. Rektor Rudy Harjanto,., Pembina Yayasan Thomas Suyatno, Staf Ahli Pembina Yayasan Sunarto, Paiman Raharjo, Kepala Pusat Penjaminan Mutu Binsar Silaban, Warek III Bambang Winarso, Dekan FKG Budiharto, Guru Besar Pascasarjana Abdullah. 

Saat membuka seminar, Rektor Universitas Moestopo berharap agar mahasiswa menyimak ceramah dari sosok pejabat negara sekaligus guru besar perguruan tinggi terkemuka yang akan menyampaikan penjelasan mengenai kondisi ekonomi nasional dalam badai turbulensi global. Dengan demikian, penjelasan itu dapat memberikan pencerahan sekaligus membawa manfaat ilmiah.  

“Ekonomi Indonesia harus memiliki ketangguhan untuk menghadapi turbulensi dunia. Stabilitas dan fundamental ekonomi Indonesia harus terjaga dengan baik. Sampai saat ini Indonesia berhasil mengembangkan perekonomian sehingga pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan semakin berkurang,” ungkap Adiningsih

Turbulensi global berawal dari kebijakan politik Donald Trump, dengan semboyan America First dalam mengobarkan perang dagang dengan China. Presiden Amerika Serikat itu mengancam akan mengenakan tarif 10% untuk impor barang dari China senilai US$200 miliar. 

Pernyataan Trump pada 18 Juni 2018 itu meningkatkan ketegangan perang dagang berskala besar dengan Beijing. Trump mengatakan, itu merupakan balasan atas keputusan China, yang mengenakan kenaikan tarif impor senilai US$50 miliar. 

Sebelumnya, pemerintah China mengatakan, ikut menaikkan tarif impor barang dari Amerika sebagai balasan atas keputusan Trump menaikkan tarif impor dari Cina dengan nilai US$50 miliar. Perang dagang  AS – China, negara raksasa ekonomi dunia tersebut, memicu turbulensi ekonomi global.  

Mnerurut Adiningsih, kontribusi keuangan Indonesia di Ching Mai Initiative Multilateralized (CMIM) sebesar US$9104 miliar.  Kerja sama Bank Indonesia dan Otoritas Moneter Singapura dalam bentuk repo dan local currency swap senilai US$10 miliar. Kesepakatan Bank Indonesia dengan Bank Sentral Jepang dalam bentuk amandemen perjanjian kerja sama Bilateral Swap Agreement (BSA) dengan nilai fasilitas swap sebesar US$22,76 miliar. 

Menurut Adiningsih, yang lebih penting daripada keberhasilan menghadapi turbulensi ekonomi global adalah menghentikan sumber turbulensi itu sendiri.

 

Tag : perguruan tinggi
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top