E-commerce Topang Pengiriman Kargo Udara di Asia

Maraknya permintaan lewat e-commerce berhasil menopang pasar pengiriman kargo lewat transportasi udara di Asia.
Dwi Nicken Tari | 19 Oktober 2018 12:34 WIB
Pesawat kargo - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Maraknya permintaan lewat e-commerce berhasil menopang pasar pengiriman kargo lewat transportasi udara di Asia. 

Adapun sejauh ini perang dagang antara AS dan China belum banyak berdampak negatif dan justru menambah volume pengiriman kargo lewat udara.

Sejauh ini, pertumbuhan e-commerce melaju sangat cepat di Asia didorong oleh raksasa teknologi asal China Alibaba Group Holding Ltd. dan JD.com Inc, dan Rakuten Inc. dari Jepang.

Kendati demikian, arus pengiriman barang mulai terancam pada tahun ini karena pemberlakuan tarif dari AS dan China terhadap produk impor asal masing-masing negara yang senilai miliaran dolar. 

Randy Tinseth, Wakil Presiden Boeing Co. untuk pasar pesawat komersial, menilai pertumbuhan industri pesawat kargo bakal terus menguat pada kuartal IV/2018.

“Perekonomian sekarang sangat, sangat kuat. Terus terang, untuk mengantisipasi situasi geopolitik, menurut saya orang-orang hanya akan terus bergerak dan memindahkan [kargo] lebih cepat,” tuturnya, seperti dikutip Reuters, Jumat (19/10/2018).

Adapun menurut data Association of Asia Pacific Airlines (AAPA), data volume pengiriman kargo udara di Asia Pasifik tumbuh 4,8% pada periode Januari—Agustus, atau lebih rendah daripada periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 9,8%. 

Direktur Jenderal AAPA Andrew Herdman menjelaskan selisih tersebut karena pada tahun lalu volume pengiriman udara mencetak rekor tertingginya.

“Mengingat dampak jangka pendek terkait pemberlakuan tarif dll, kami kini mencari saluran yang memiliki permitaan yang lebih kuat daripada yang diperkirakan. Untuk beberapa bulan ke depan, sentimen untuk kargo tetap kuat. Pertanyaannya sekarang adalah mengenai outlook pada tahun depan,” ujarnya.

Maskapai milik Asia berkontribusi paling besar untuk pengiriman kargo udara, yaitu sebesar 40% dari pasar global, mengingat kawasan Asia merupakann hub manufaktur besar dan diikuti dengan pertumbuhan e-commerce.

“E-commerce mengubah cara masyarakat membeli barang, khususnya di negara seperti Indonesia dan Filipina,” kata Jean-Francois Laval, Wakil Presiden Eksekutif Airbus SE untuk penjualan Asia.

Dia menjelaskan bahwa pengiriman e-commerce tersebut banyak berdatangan dari China, Korea Selatan, dan beberapa negara Asia lainnya.

Pada awal pekan ini, Boeing memperkirakan lalu lintas kargo udara akan naik dua kali lipat dalam dua dekade ke depan dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 4,2% per tahun.

Untuk memenuhi permintaan, manufaktur pesawat terbang memperkirakan armada kargo udara di dunia bakal bertambah lebih dari 70% menjadi 3.260 unit.

“Tahun lalu, pasar kargo sangat panas. Pada 2018, masih tumbuh. Tapi tensi perdagangan di dunia akan memiliki dampak yang belum pernah kami lihat. Saya melihat kendala untuk jangka pendek. Tapi kami akan bersiap,” kara Presiden Korean Air Walter Cho.

 

Tag : e-commerce, kargo udara
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top