China Tuduh AS Tebar Praktik Perundungan Perdagangan

Segera setelah tarif impor diberlakukan, China menuduh AS terlibat dalam praktik bullying (perundungan perdagangan dengan mengintimidasi negara lain untuk tunduk pada keinginannya melalui penerapan tarif impor, ungkap kantor berita Xinhua seperti dilansir Reuters.
Aprianto Cahyo Nugroho | 24 September 2018 15:22 WIB
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Amerika Serikat dan China mulai memberlakukan tarif baru atas barang-barang impor satu sama lain pada hari ini, Senin (24/9/2018), tanpa ada isyarat mundur dari kedua belah pihak.

Segera setelah tarif impor diberlakukan, China menuduh AS terlibat dalam praktik bullying (perundungan perdagangan dengan mengintimidasi negara lain untuk tunduk pada keinginannya melalui penerapan tarif impor), ungkap kantor berita Xinhua seperti dilansir Reuters.

Namun, Beijing juga mengatakan pihaknya bersedia untuk memulai kembali perundingan perdagangan dengan AS jika perundingan tersebut "didasarkan pada rasa saling menghormati dan kesetaraan,", kutip Xinhua dari lembaran resmi yang diterbitkan oleh Dewan Negara China.

Tarif AS atas barang-barang impor China senilai US$ 200 miliar dan tarif pembalasan dari Beijing senilai US$60 miliar berlaku hari ini, meskipun besarnya tarif tidak setinggi yang dikhawatirkan sebelumnya.

Produk China yang dikenai tarif impor baru ini termasuk penyedot debu hingga perangkat yang terhubung ke internet, sementara barang-barang AS yang ditargetkan Beijing termasuk gas alam cair dan jenis pesawat tertentu.

Meskipun seorang pejabat senior Gedung Putih pekan lalu mengatakan AS akan terus melibatkan China untuk "jalan ke depan yang positif," kedua belah pihak masih belum mengisyaratkan kesediaan untuk berkompromi.

Pejabat AS mengatakan pada hari Jumat (21/9) belum ada penetapan rencana pembicaraan berikutnya. Adapun The Wall Street Journal melaporkan bahwa China telah memutuskan untuk tidak mengirim Wakil Perdana Menteri Liu He ke Washington minggu ini.

Para ekonom mengingatkan bahwa perselisihan yang berlarut-larut akhirnya akan menghambat pertumbuhan bukan hanya di AS dan China tetapi di seluruh ekonomi global yang lebih luas.

Ketegangan perdagangan juga telah mendorong persoalan yang lebih luas antara Beijing dan Washington, dengan kedua belah pihak menyeruduk isu-isu yang semakin meningkat.

China memanggil duta besar AS di Beijing dan menunda pembicaraan militer bersama sebagai protes terhadap keputusan AS yang memberikan sanksi kepada badan militer China dan direkturnya karena membeli jet tempur dan sistem rudal dari Rusia.

Rob Carnell, kepala ekonom Asia di ING, mengatakan dalam sebuah catatan kepada klien bahwa tanpa adanya insentif, Beijing kemungkinan akan menunda negosiasi lebih lanjut untuk saat ini.

"Ini akan terlihat lemah baik di AS dan China, ada stimulus yang cukup dalam pipa untuk membatasi dampak tarif terbaru pada pertumbuhan China,’ ungkapnya, seperti dikutip Reuters..

"Perang dagang AS-China tidak memiliki akhir yang jelas," lanjutnya.

Carnell menambahkan, China juga diperkirakan menunggu pemilihan jangka menengah AS awal bulan depan untuk petunjuk mengenai perubahan dalam kebijakan kebijakan Washington.

"Dengan jajak pendapat umum yang menguntungkan Partai Demokrat, mereka mungkin merasa bahwa lingkungan perdagangan akan kurang bermusuhan setelah 6 November."

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top