Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonomi Iran Tertekan, Parlemen Panggil Presiden Rouhani

Presiden Iran Hassan Rouhani berada dalam tekanan setelah dipanggil oleh Parlemen Iran untuk menjelaskan kondisi ekonomi negara Timur Tengah tersebut.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 28 Agustus 2018  |  13:51 WIB
Presiden Iran Hassan Rouhani dalam sebuah konferensi pers di Wina, Austria, Rabu (4/7). - Reuters/Lisi Niesner
Presiden Iran Hassan Rouhani dalam sebuah konferensi pers di Wina, Austria, Rabu (4/7). - Reuters/Lisi Niesner

Bisnis.com, JAKARTA -- Presiden Iran Hassan Rouhani berada dalam tekanan setelah dipanggil oleh Parlemen Iran untuk menjelaskan kondisi ekonomi negara Timur Tengah tersebut.
 
Parlemen bertanya mengapa pemerintah tidak mengadopsi reformasi di sektor finansial dan foreign exchange serta mengapa bank-bank Iran masih kesulitan mendapat akses ke layanan finansial global meski sudah dua tahun berlalu sejak kesepakatan nuklir damai tercapai.
 
Di hadapan parlemen, Rouhani menyatakan permasalahan ekonomi Iran terjadi karena AS menjatuhkan sanksi kepada Teheran. Ini merupakan kali pertama dia dipanggil oleh parlemen.
 
"Saya ingin meyakinkan rakyat Iran bahwa kita tidak akan membiarkan rencana AS melawan Iran berhasil," ujar Rouhani seperti dilansir dari Reuters, Selasa (28/8/2018).
 
Dia juga menegaskan tidak takut dengan AS maupun berbagai masalah ekonomi yang sedang mendera. Rouhani berjanji bakal mengatasi masalah yang ada. 
 
Washington telah menjatuhkan sejumlah sanksi baru kepada Iran, yang mencakup sanksi atas perdagangan emas dan logam berharga lainnya, pembelian dolar AS, serta industri otomotif. Presiden AS Donald Trump sudah menyampaikan bakal memberikan sanksi lainnya, yang menyasar pada penjualan minyak Iran, pada November 2018.
 
Sanksi tersebut merupakan aksi lanjutan setelah AS keluar dari perjanjian nuklir damai antara Iran dengan negara-negara adidaya. Trump mengklaim berbagai upaya yang telah dilakukan Iran dalam hal program nuklirnya belum cukup meyakinkan dan ingin menerapkan klausul tambahan. 

Dalam perjanjian nuklir damai itu, Iran setuju untuk menyesuaikan program nuklirnya dengan kompensasi mendapatkan akses ekonomi yang lebih terbuka dari pasar global.
 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

iran amerika serikat

Sumber : Reuters

Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top