Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

DPR Minta Polri, TNI dan BIN Respons Ancaman ISIS Dengan Tindakan Terukur

Ketua DPR Bambang Soesatyo meminta Polri, TNI dan BIN segera memberi respons terukur terhadap informasi mengenai ancaman jaringan negara Islam Irak dan Suriah, ISIS, yang berniat menyerang pemerintah Indonesia.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 27 Agustus 2018  |  12:01 WIB
Ketua DPR Bambang Soesatyo menyampaikan sambutan seusai dilantik sebagai Ketua DPR dalam rapat paripurna DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/1). - ANTARA/Wahyu Putro A
Ketua DPR Bambang Soesatyo menyampaikan sambutan seusai dilantik sebagai Ketua DPR dalam rapat paripurna DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/1). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA--Ketua DPR Bambang Soesatyo meminta Polri, TNI dan BIN segera memberi respons terukur terhadap informasi mengenai ancaman jaringan negara Islam Irak dan Suriah, ISIS, yang berniat menyerang pemerintah Indonesia.

Menurut politisi dengan sapaan populer Bamsoet ini, respons terukur perlu dilakukan agar bisa memininalisir sekaligus mereduksi potensi ancaman.

"Sehingga tidak menimbulkan rasa cemas atau kegaduhan di ruang publik. Kondusivitas di dalam negeri harus tetap terjaga, terutama karena Asian Games 2018 masih menyisakan banyak pertandingan pada berbagai cabang olahraga," ujar Bamsoet, Senin (27/8/2018).

Politisi Golkar itu mengatakan bahwa alasan kuat untuk mengeluarkan peringatan itu karena adanya rangkaian informasi sepanjang pekan ketiga bulan ini.

Pertama adalah kasus penembakan dua anggota Patroli Jalan Raya (PJR) Polda Jabar, Aiptu Dodon Kusdianto dan Aiptu Widi Harjana, oleh tiga orang tak dikenal di Kilometer 223-400 jalur jalan Tol Kanci–Pejagan di Kabupaten Cirebon, Jumat (24/8) malam. 

Memang, motif penembakan itu belum diketahui. Namun, kasus penembakan itu hanya selang beberapa hari setelah beredarnya video ancaman ISIS di jagat maya. 

Kedua, pada Selasa (21/8), sebuah video berisi ancaman dari Divisi Peretasan ISIS kepada pemerintahan Indonesia yang dipimpin Presiden Joko Widodo, beredar di dunia maya. Mereka menyoroti perlakuan pemerintah Indonesia kepada rekan-rekan mereka. Mulai dari pemenjaraan hingga pemblokiran akun sosial media.

Ketiga, Kamis (23/8), pemerintah Australia memperbarui travel advice untuk warganya yang hendak bepergian ke Indonesia. Alasannya, akan ada serangan teroris di Indonesia. Karena travel advice itu pula, staf konsulat jenderal Australia di Surabaya tidak menghadiri acara di Universitas Airlangga.

Setelah itu, dari Washington, AS, dilaporkan pada Jumat (24/8), bahwa otoritas intelijen setempat menetapkan  tiga orang dari Asia Tenggara sebagai teroris. Mereka diduga merekrut orang lain bergabung dengan ISIS. Satu dari tiga orang itu berkewarganegaraan Indonesia, berinisial MKYF. 

"Profil tiga orang ini terlihat dalam video ISIS pada Juni 2016, saat algojo ISIS memenggal tiga sandera," ujar Bamsoet.

Memang, belum ada kepastian akan kaitan fakta-fakta itu. Tetapi, kata Bamsoet, Polri, TNI dan BIN patut menggarisbawahi dan memberi respons terukur.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

polri dpr tni bin ISIS
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top