Antara Agus, Airlangga, dan Idrus Marham

Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali diperkuat oleh politisi Partai Golkar setelah nama Agus Gumiwang Kartasasmita dilantik menggantikan Idrus Marham sebagai menteri sosial hari ini, Jumat (24/8/2018) setelah terlebih dahulu mengundurkan diri karena dugaan kasus korupsi.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 24 Agustus 2018  |  18:45 WIB
Antara Agus, Airlangga, dan Idrus Marham
Agus Gumiwang Kartasasmita bersiap mengikuti upacara pelantikan dirinya menjadi Menteri Sosial di Istana Negara, Jakarta, Jumat (24/8). Agus Gumiwang dilantik sebagai Menteri Sosial karena Idrus Marham mengundurkan diri seusai menerima surat penyidikan dari KPK terkait kasus suap proyek PLTU Riau-1. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi)  kembali diperkuat oleh politisi Partai Golkar setelah nama Agus Gumiwang Kartasasmita dilantik menggantikan Idrus Marham sebagai menteri sosial hari ini, Jumat (24/8/2018) setelah terlebih dahulu mengundurkan diri karena dugaan kasus korupsi.

Masuknya nama Agus ke kabinet menunjukkan keberadaan politisi Golkar kian eksis di pemerintahan, setelah Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto terlebih dahulu berada di kabinet.

Tidak hanya Partai Golkar yag kian populer, tapi memori kolektif publik kembali diingatkan kepada pemerintahan Orde Baru pada era pemerintahan mendiang Presiden Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun.

Maklum, kedua politisi Senayan yang masuk ke kabinet itu merupakan sama-sama putra mantan menteri di era Orde Baru. Kalau Airlangga merupakan putra mendiang Menteri Perindustrian Hartarto Sastrosoenarto, Agus merupakan putra dari Ginandjar Kartasasmita.

Ginandjar pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan dan Industri (Menko Ekuin), Menteri Pertambangan dan Energi serta sempat menjadi Kepala Bappenas.

Selain jadi Menteri Perindustrian, Hartarto juga pernah menjabat sebagai Menko Bidang Produksi dan Distribusi (Prodis) dan Menko Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara (Wasbangpan) di era Orde Baru.

‘Satu Perahu’

Keduanya juga sama-sama mengikuti karier politik sang ayah. Agus bergabung dengan Partai Golkar dan berhasil menjadi anggota DPR empat kali berturut-turut. Hal yang sama juga dicapai Airlangga sebelum bergabung dengan kabinet.

Agus dan Airlangga juga “satu perahu” ketika terjadi konflik kepemimpinan di tubuh Golkar yang menciptakan Munas Bali yang dipimpin oleh Aburizal Bakrie dan Munas Ancol, Jakarta yang dipimpin oleh Agung Laksono.

Bedanya, Airlangga naik menjadi Ketua Umum Partai Golkar melalui Munas Luar Biasa menggantikan Setya Novanto yang terjerat kasus korupsi. Sedangkan, Agus yang memang lebih junior dari Airlangga, menguasai DPR di Senayan dengan menjadi Sekretaris Fraksi Partai Golkar setelah sebelumnya diusulkan jadi Wakil Ketua Umum Partai Golkar.

Agus Gumiwang Kartasasmita, sering dipanggil AGK, lahir di Jakarta, 3 Januari 1969. Sedangkan, Airlangga Hartarto (AH) yang lebih senior lahir di Surabaya pada 1962.

Keduanya mulai berseberangan dengan DPP Golkar saat pencalonan presiden 2014. Agus dan Airlangga lebih memilih pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla ketimbang Prabowo Subianto dan Hatta Radjasa yang diusung DPP Golkar pimpinan Aburizal Bakrie.

Siapa Idrus Marham?

Lalu, di manakah posisi Idrus Marham di antara kedua tokoh tersebut?

Idrus memang bukan putra tokoh Golkar sebagimana Agus dan Airlangga. Akan tetapi, dalam hal karir politik Idrus tidak jauh berbeda dengan Agus dan Airlangga.

Pria kelahiran Pinrang, Sulawesi Selatan 1962 itu juga memulai karir politik dari usia muda. Masuknya Idrus dalam dunia politik dimulai ketika dia terpilih sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat pada pemilu 1997.

Setelah itu melalui Partai Golkar dia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk tiga periode berturut-turut yaitu 1999-2004, 2004-2009, dan 2009-2014 untuk daerah pemilihan III Sulawesi Selatan.

Angket Bank Century

Salah satu peran Idrus yang menonjol sebagai anggota DPR adalah ketika Ia menjadi ketua Panitia Khusus Hak Angket Bank Century.

Kasus tersebut kemudian mencatat terlibatnya sejumlah politisi Partai Demokrat dalam kasus korupsi.

Hanya saja, bedanya, Idrus punya pengalaman lebih dari Agus dan Airlangga untuk satu hal, yakni karena pernah menjabat sebagai Sekjen di dua periode Ketua Umum Partai Golkar yang tentunya tidak dilakoni kedua rekannya tersebut.

Idrus terpilih sebagai Sekjen Partai Golkar hasil Munas Pekanbaru untuk periode 2009-2014 yang dipimpin oleh Ketua Umum Aburizal Bakrie.

Idrus kembali terpilih menjadi Sekjen Partai Golkar ketika Munaslub di Bali (2016) setelah Setya Novanto terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar mengalahkan Airlangga yang tidak masuk ke putaran kedua.

Akhirnya, Novanto berhadapan dengan Ade Komaruddin pada babak kedua pemilihan. Pertarungan akhirnya dimenangkan oleh Novanto yang hanya menjabat sekitar setahun sebelum masuk penjara dalam klasus suap e-KTP.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mensos

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top