Data PPATK Jadi Kunci Untuk Ungkap Pajak, Perdagangan Hingga Kejahatan

Hasil Analisis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dianggap cukup strategis karena memuat informasi yang bersifat multisumber.
Edi Suwiknyo | 17 Juli 2018 08:20 WIB
Menkeu Sri Mulyani Indrawati (kedua kanan) bersama Jaksa Agung Muhammad Prasetyo (tengah), Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin (kedua kiri), Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi (kanan) dan Jampidsus Arminsyah menunjukan barang bukti produk tekstil hasil tindak pidana kepabeanan di Kemenkeu, Jakarta, Kamis (2/11). - ANTARA/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA -- Hasil Analisis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dianggap cukup strategis karena memuat informasi yang bersifat multisumber.

Data dan informasi pendukung seperti data kepemilikan tanah dan bangunan, ekspor-impor dan perdagangan internasional, pajak, dan lainnya lazim dituangkan dalam Hasil Analisis PPATK yang diteruskan kepada penegak hukum untuk ditindaklanjuti.

Hal ini disampaikan Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin dalam Indonesia International Defense Science Seminar (IIDSS) yang diselenggarakan oleh Universitas Pertahanan.

"Sumber informasi PPATK utamanya berasal dari Pihak Pelapor, yang memberikan informasi seperti profil pelanggan, sumber dana, transaksi yang mendasari, kriteria transaksi yang mencurigakan, dan dugaan tindak pidana asalnya," kata Kiagus dalam keterangan resminya, Senin (16/7/2018).

Jenis Hasil Analisis di PPATK terdiri atas analisis taktis dan analisis operasional. Prosesnya secara umum melalui tahap meninjau pemicu analisis, eksplorasi data dan informasi, persiapan analisis kertas kerja, dan permintaan data atau informasi lainnya.

Produk Hasil Analisis telah melalui serangkaian proses evaluasi dan umpan balik guna memastikan kualitas isi dari Hasil Analisis tersebut.

"Follow the money digunakan oleh PPATK untuk mengidentifikasi sumber uang, tipologi yang digunakan, penggunaan aset, serta mengidentifikasi aset yang diduga berasal dari hasil kejahatan," ujar eks Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan ini.

IIDSS kali ini mengangkat tema “Strengthening Defense Diplomacy to Address Common Security Challenges”, dengan menghadirkan tidak kurang 24 pakar dari dalam dan luar negeri yang menjadi pembicara dari perspektif Studi Pertahanan dan perspektif Teknologi Pertahanan.

Hasil diskusi dalam seminar IIDSS akan dirangkum dalam proceeding terakreditasi nasional dan bereputasi internasional sebagai masukan kepada pemerintah Indonesia dan kepada masyarakat dunia.

Tag : ppatk
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top