Ekonomi Jepang: Permintaan Mesin Turun, Memanasnya Perang Dagang Diwaspadai

Permintaan inti untuk produk mesin di Jepang turun pada Mei dari kenaikan di bulan sebelumnya. Kendati penurunan itu tidak terlalu tajam, namun kekhawatiran kembali muncul akibat memburuknya konflik perdagangan AS-China.
Dwi Nicken Tari | 11 Juli 2018 14:27 WIB
Seorang wanita di toko Uniqlo Fast Retailing di Tokyo, Jepang (24/1/2017). - .Reuters/Kim Kyung/Hoon

Bisnis.com, JAKARTA – Permintaan inti untuk produk mesin di Jepang turun pada Mei 2018 dari kenaikan pada bulan sebelumnya. Kendati penurunan itu tidak terlalu tajam, namun kekhawatiran kembali muncul akibat memburuknya konflik perdagangan AS-China.

Adapun belanja modal (Capital Expenditure/Capex) merupakan titik yang cerah di dalam perekonomian Jepang, yang sempat terkontraksi pada kuartal I/2018 setelah pertumbuhan terpanjangnya sejak masa gelembung ekonomi pada era 1980-an.

Para ekonom pun memperhatikan dengan seksama untuk mencari tanda-tanda bahwa perekonomian Negeri Sakura dapat rebound pada kuartal II/2018.

Data Kantor Kabinet Jepang menunjukkan permintaan inti—sekumpulan data volatilitas yang digunakan sebagai indikator pengeluaran modal pada enam hingga sembilan bulan ke depan—tumbuh ke level 3,7%, atau lebih kecil dari pada perkiraan analis di level 5,5%. Adapun pada bulan sebelumnya, permintaan inti sempat menguat menjadi 10,1%.

Data ini dirilis seminggu setelah survei tankan oleh Bank Sentral Jepang (BOJ) memperlihatkan bahwa perusahaan besar berencana meningkatkan pengeluaran modalnya hinnga 13,6% pada tahun fiskal ini kendati keyakinan bisnis manufaktur telah memburuk selama dua kuartal terakhir.

“Data permintaan mengonfirmasi capex yang bullish. Data permintaan inti tampaknya akan naik untuk kuartal keempat berturut-turut pada April-Juni,” kata Koya Miyamae, Ekonom Senior di SMBC Nikko Securities, seperti dikutip Reuters, Rabu (11/7/2018).

Adapun ekonom memperkirakan capex bisa mendapatkan dukungan dari persiapan Tokyo Olympic Games 2020 yang bakal meningkatkan kapasitas produksi, software, investasi di peralatan labor-saving, dan infrastruktur lainnya.

Kendati demikian, para pembuat kebijakan dan analis sangat berhati-hati dan terus mengamati memburuknya perselisihan dagang antara AS dan China. Pasalnya, dua pasar ekspor terbesar Jepang itu dapat mempengaruhi pengeluaran modal korporasi yang bergantung dengan kinerja ekspor.

Lebih lanjut, data tersebut menunjukkan permintaan dari manufaktur meningkat menjadi 1,3% pada Mei sementara permintaan sektor jasa naik 0,2%.

Dibandingkan setahun sebelumnya, permintaan inti (yang mengecualikan permintaan untuk pengiriman dan utilitas listrik) naik 16,5% pada Mei, atau lebih tinggi daripada perkiraan ekonom sebesar 8,6%.

Sementara itu, survei tankan dari BOJ menunjukkan manufaktur besar berencana meningkatkan capex mereka hingga 17,9% pada tahun fiskal ini, atau laju tercepat sejak 2015.

Sementara sektor non-manufaktur juga berencana akan menaikkan capex hingga 11,2%, atau laju tercepat sejak 1990 ketika gelembung ekonomi berada di puncaknya.

Adapun BOJ akan mengetatkan data permintaan dan data lainnya ketika peninjauan berakhir pada 31 Juli 2018, ketika sembilan anggota dewan gubernur mengadakan peninjauan kuartalan untuk outlook pertumbuhan jangka panjang dan inflasi. (Reuters/Dwi Nicken Tari)

Tag : ekonomi jepang
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top