Betulkah Udara Bandung Akan Menjadi Sangat Dingin? Ini Penjelasan BMKG

Kabar di media sosial menyebutkan bahwa dalam beberapa hari ke depan suhu di Kota Bandung akan berada di bawah kisaran normal.
Saeno | 06 Juli 2018 20:21 WIB
Logo dan semboyan BMKG - infoBMKG

Bisnis.com, JAKARTA -  Kabar di media sosial menyebutkan bahwa dalam beberapa hari ke depan suhu di Kota Bandung akan berada di bawah kisaran normal.

Disebutkan bahwa biasanya suhu Kota Bandung berada di angka 18 derajat Celsius, sedangkan suhu dalam beberapa hari ke depan bisa mencapai 12 derajat Celcius.

"Itu tandanya udara menjadi sangat dingin pada malam hari. Hal ini bisa menyebabkan bayi dan lansia mengalami gangguan kesehatan seperti mimisan, demam, hypothermia. Mohon informasikan keluarga supaya menggunakan baju lebih tebal, kaos kaki, sarung tangan saat malam hari," demikian kutipan pesan yang beredar di media sosial.

Selintas pesan itu hanya memberikan peringatan agar warga Bandung bersiap menghadapi suhu yang tidak biasa. Namun, di sisi lain kabar tersebut juga bisa menimbulkan keresahan.

Menanggapi kabar yang beredar itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika memberikan sejumlah penjelasan.

"Adapun yang beredar di sosmed mengenai suhu di Bandung, yang mencapai 15°C saat ini bukanlah yang terdingin. Suhu minimum yang terjadi di Bandung pernah 12,4°C pada Juli 1986 dan di Lembang pernah 9,8°C pada Juli 1991. Artinya suhu sekarang masih berada di tatanan normal," ujar BMKG melalui akun resminya di Twitter,  bertanda tanggal Kamis (5/7/2018).

Dengan penjelasan itu, jelaslah bahwa kisaran suhu 12 derajat Celsius memang sempat terjadi di Kota Bandung. Namun, hal itu terjadi pada tahun 1986.

Tak hanya suhu 12 derajat, wilayah Bandung pun tercatat pernah bersuhu 9,6 derajat Celsius. Namun, hal itu terjadi di wilayah Lembang yang dikenal sebagai dataran tinggi di kawasan Bandung Utara dan menjadi tempat berdirinya observatorium bintang Boscha.

Di sisi lain, BMKG membenarkan soal adanya aliran massa dingin. Mengutip Kepala Bagian Humas Hary Tirto Djatmiko, Indonesia mengalami puncak musim kemarau pada Juli sampai Agustus ini. "Dengan indikator aktifnya monsun Australia, Indonesia mendapatkan pengaruh dari aliran massa dingin dari Australia yang menuju ke Asia," kutip akun BMKG.

Aliran massa dingin itu menyebabkan perubahan suhu menjadi lebih dingin di sejumlah wilayah Indonesia yang berada di sebelah selatan garis khatulistiwa. Mulai dari Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, Bali.

Pihak BMKG juga menyebutkan bahwa saat ini memang berada di puncak musim kemarau (Juli-Agustus), yang ditandai dengan suhu yang lebih dingin, siang lebih panas, anginnya lebih kencang.

Meski begitu, masyarakat diingatkan untuk tidak khawatir dan resah. "Yang penting mempersiapkan diri menghadapi udara dingin ini," tulis akun infoBMKG, seperti dimonitor Jumat (6/7/2018) malam.

Sumber : Twitter/BMKG

Tag : cuaca, kota bandung
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top