Abenomics Melemah, Tensi Dagang Meningkat, Ekonomi Jepang Muram

Proteksionisme dagang AS membawa awan hitam terhadap outlook. Selain itu, pergerakan harga minyak dan material lainnya juga dapat meningkatkan biaya input.
Dwi Nicken Tari | 02 Juli 2018 10:51 WIB
Bank of Japan - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA—Kepercayaan bisnis manufaktur besar di Jepang memburuk untuk dua kuartal berturut-turut. Survei Bank Sentral Jepang (BOJ) memperlihatkan, proteksionisme dagang AS membawa awan hitam terhadap outlook. Selain itu, pergerakan harga minyak dan material lainnya juga dapat meningkatkan biaya input.

Survei kuartalan BOJ, Tankan, yang dirilis Senin (2/7/2018) memperlihatkan indeks sentimen untuk manufaktur besar berada di level 21 pada Juni, turun dari 24 pada kuartal sebelumnya, dan merupakan penurunan selama dua kuartal berturut-turut.

Adapun pelemahan seperti ini merupakan yang pertama kalinya sejak PM Jepang Shinzo Abe menjabat Desember 2012. Kekhawatiran bahwa kebijakan “Abenomics” tidak lagi berdaya pun mulai muncul.

Lebih lanjut, data survei Tankan yang dirilis bersamaan dengan memanasnya perselisihan dagang AS-China ini menunjukkan sektor industri seperti mobil dan minyak menjadi penyeret sektor-sektor lain.

Kekhawatiran mulai muncul bahwa Presiden AS Donald Trump bakal menarget impor otomotif dari Jepang dan sejumlah negara mitra lainnya untuk dikenai tarif proteksionisme setelah tarif baja dan aluminium.

“Sentimen manufaktur menurun sementara belanja modal (capital expenditure/capex) menopang perusahaan. Kami melihat ada kekhawatiran bahwa proteksionisme dagang dapat berdampak pada capex perusahaan yang direncanakan dari sekarang,” ujar Masaki Kuwahara, ekonom senior Nomura Securities, seperti dikutip Reuters, Senin (2/7/2018).

Adapun indeks sentimen yang dirilis Tankan itu berada di bawah perkiraan analis yang disurvei Reuters di level 22. Ke depan, indeks tersebut diperkirakan bergerak mendatar selama kuartal III/2018.

Hiroshi Miyazaki, ekonom senior di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities mengungkapkan, pelaku sektor manufaktu Jepang juga khawatir dengan menguatnya yen di tengah perselisihan dagang AS.

“Hal itu bisa merusak sentimen mereka. Perusahan juga khawatir dengan perubahan dari kebijakan moneter terkait penguatan yen,” katanya.

Berdasarkan survei tersebut, manufaktur besar memperkirakan tingkat dolar/yen berada di level 107,26 yen pada tahun fiskal ini, dibandingkan 109,66 yen pada tiga bulan sebelumnya.

BOJ pun akan mencermati hasil survei Tankan pada akhir bulan ini ketika sembilan dewan gubernurnya mengadakan audit kuartalan untuk membahas pertumbuhan jangka panjang dan outlook harga, serta menganalisis faktor yang mempengaruhi inflasi.

Sementara itu, survei yang dilakukan oleh Markit/Nikkei terhadap aktivitas manufaktur Jepang memperlihatkan pertumbuhan dengan laju tipis pada Juni.

Namun, sejalan dengan survei Tankan, kekhawatiran dampak perang dagang AS dengan sejumlah ekonomi mayoritas dunia membuat permintaan ekspor Negeri Sakura menurun.

Purchasing Managers’ Index/PMI secara musiman berada di level 53, lebih rendah dari perkiraan di level 53,1, namun tetap berada di atas perolehan pada Mei di level 52,8.

“Data PMI manufaktur Jepang terus memberikan sinyal bahwa fase ekspansi sektor saat ini masih memiliki ‘kaki’,” ujar Joe Hayes, ekonom di IHS Markit yang menjalankan survei.

Dia menjelasnya, kekhawatiran tetap ada, seiring melemahnya pertumbuhan permintaan baru ke level terendah dalam 10 bulan dan penjualan ekspor berkurang untuk pertama kalinya sejak Agustus 2016.

Perselisihan dagang AS dengan negara lain, termasuk Jepang, telah mencuri perhatian investor dan para pembuat kebijakan. Jepang yang memiliki pasar ekspor besar di China khawatir perang tarif dapat mengganggu ekonomi global.

Sementara output pabrik di Jepang bergerak dengan laju cepat pada bulan lalu sebagai tanda dari kekuatan sektor manufaktur. Laju tersebut dapat terancam jika permintaan ekspor terus melemah.

Adapun perekonomian Jepang diperkirakan rebound pada kuarta II/2018 dari kontraksi pada kuartal sebelumnya yang menghentikan pertumbuhan terpanjang sejak gelembung ekonomi 1980-an.

Namun, banyak ekonom menilai proteksionisme dagang benar-benar menjadi ancaman terbesar untuk outlook ekonomi Negeri Sakura. 

Sumber : Reuters

Tag : ekonomi jepang
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top