ECB Kaji Skema Investasi Ulang Utang Jatuh Tempo

Bank Sentral Eropa (ECB) mengkaji jumlah utang jatuh tempo yang nilainya mencapai 160 miliar euro (US$185 miliar) untuk dikembalikan menjadi obligasi pada tahun depan dan mempertimbangkan untuk melonggarkan aturan pembelian obligasi.
Dwi Nicken Tari | 21 Juni 2018 16:46 WIB
Kanptr pusat Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt, Jerman - Reuters/Alex Domanski

Kabar24.com, JAKARTA – Bank Sentral Eropa (ECB) mengkaji jumlah utang jatuh tempo yang nilainya mencapai 160 miliar euro (US$185 miliar) untuk dikembalikan menjadi obligasi pada tahun depan dan mempertimbangkan untuk melonggarkan aturan pembelian obligasi.

Menurut pejabat Zona Euro yang mengerti jalannya diskusi, prospek itu diharapkan dapat mengurangi risiko volatilitas pasar yang dapat melemahkan ekonomi Benua Biru setelah program pembelian obligasi berakhir pada akhir tahun ini.

Beberapa sumber menyebut investasi ulang itu bisa melebihi 160 miliar euro, sementara yang lain mengatakan jumlahnya bisa setinggi-tingginya 200 juta euro. Adapun sumber tersebut tidak ingin disebutkan identitasnya karena proyeksi internal bersifat sangat rahasia.

Adapun angka tersebut melebihi estimasi 147 miliar euro yang digunakan untuk investasi ulang tahun ini.

“Untuk menghindari volatilitas yang dipicu oleh penebusan (redemption), bank sentral juga perlu mempertimbangkan revisi panduan saat ini, seperti aturan investasi ulang harus dibuat dalam waktu tiga bulan dari keamanan jatuh tempo (security maturing),” kata dua sumber tersebut seperti dikutip Bloomberg, Kamis (21/6/2018).

Sementara itu, juru bicara ECB menolak memberikan pendapat. Strategi Gubernur ECB Mario Draghi untuk mengembalikan hasil utang jatuh tempo menjadi program pelonggaran kuantitatif (QE) kini menjadi semakin penting.

Pasalnya, pembuat kebijakan telah memutuskan untuk berhenti menambah kepemilikan atas utang pemerintah pada akhir Desember 2018, yang saat itu akan kepemilikan ECB mencapai 2,6 triliun euro.

Oleh karena itu, investasi ulang dinilai dapat membantu menenangkan volatilitas pasar obligasi, yang dapat mendorong dana pembiayaan untuk perusahaan.

“Tentu saja ada niat kolektif dari anggota Dewan Gubernur untuk menghindari pengetatan kondisi kelebihan likuiditas, atau pengetatan moneter yang tidak diinginkan, dan kondisi keuangan yang mungkin terdorong dari investasi ulang,” ujar Draghi pekan lalu.

Menenangkan pasar merupakan kekhawatiran utama para pembuat kebijakan, khususnya di tengah-tengah risiko eksternal seperti proteksionisme dagang. Draghi pun menekankan di dalam konferensi ECB di Portugal pekan ini, perluasan ekonomi Zona Euro berikutnya bergantung dengan peningkatan modal bisnis yang digunakan untuk memperluas kapasitas produktivitas mereka.

“Pertumbuhan secara besar telah tercapai dengan menerapkan lebih banyak pekerja ke modal yang ada. Perusahaan harus semakin beralih ke modal untuk mengangkat kapasitas,” ujarnya.

Draghi menjelaskan, proses peralihan ke modal untuk mengangkat kapasistas telah dimulai sejak investasi bisnis meningkat dan kini berada di atas level pra-krisisnya.

Adapun ECB telah menerbitkan perkiraan jumlah utang jatuh tempo dalam 12 bulan, atau hingga Mei 2019. Data itu memperlihatkan terdapat 91 miliar euro yang harus ditebus did alam lima bulan ke depan.

Kendati demikian, penebusan bulanan tersebut tidak merata, berkisar antara 11,9 miliar euro dan 25,4 miliar euro. ECB berniat untuk meninjau ulang aturannya terkait investasi ulang di dalam pertemua ECB berikutnya.

“[Hal itu] sekali lagi adalah keputusan penting dan bukan marjinal,” ujar Draghi.

Tag : ecb, ekonomi eropa
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top