Efek Tarif Baja dan Aluminium AS, Pemerintah Quebec Tawarkan Bantuan

Salah satu pemerintah provinsi di Kanada, yaitu Quebec akan menawarkan bantuan berupa kredit dan penjaminan senilai US$77,1 juta bagi produsen baja dan aluminium yang terdampak bea masuk dari Pemerintah Amerika Serikat
Annisa Sulistyo Rini | 12 Juni 2018 19:19 WIB
PM Kanada Justin Trudeau saat berbincang dengan Presiden Donald Trump di Ruang Oval Gedung Putih 13 Februari 2017. - Reuters/Kevin Lamarque

Bisnis.com, JAKARTA -- Salah satu pemerintah provinsi di Kanada, yaitu Quebec akan menawarkan bantuan berupa kredit dan penjaminan senilai US$77,1 juta bagi produsen baja dan aluminium yang terdampak bea masuk dari Pemerintah Amerika Serikat.

Seperti dilansir dari Reuters, Selasa (12/6/2018), perusahaan baja dan aluminium akan mendapatkan insentif tersebut setelah Pemerintah AS mengenakan bea masuk sebesar 25% pada produk baja dan 10% unuk produk aluminium.

Dominique Anglade, Pejabat Ekonomi Provinsi Quebec, mengatakan bahwa inisiatif program ini muncul setelah produsen baja dan aluminium menanggung beban akibat klien tidak bersedia membayar bea masuk ke Amerika Serikat.

"Para produsen tersebut menyampaikan bahwa beberapa kontrak mereka dibatalkan," ujarnya.

Dia juga menambahkan beberapa produsen baja dan aluminium telah mengurangi produksi mereka.

Anglade menyatakan dampak dari pengenaan bea masuk pada produk logam tersebut telah dirasakan lebih cepat dibandingkan pengenaan bea masuk untuk produk kayu pada 2017.

"Dampaknya sulit dinilai, tetapi kami melihat ada dampak yang kami tidak hadapi ketika AS mengumumkan tarif untuk kayu," katanya.

Dia juga menambahkan industri baja dan aluminium menyerap sekitar 30.000 tenaga kerja di wilayah Quebec. Pemprov Quebec akan menemui pelaku industri pada minggu depan untuk membahas program bantuan.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Aluminium Kadana Jean Simard, menuturkan beberapa produsen aluminium besar di provinsi tersebut, yang memiliki margin lebih tinggi dan berskala lebih besar, tidak dianjurkan mengikuti program tersebut.

 

Sumber : reuters

Tag : kanada
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top