Sejumlah MI Menilai Ini Saat yang Tepat Masuk ke Emerging Market

Penguatan dolar AS, naiknya imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun, dan tensi geopolitik akhir-akhir ini memicu aksi jual di pasar negara berkembang. Nilai tukar mata uang terdepresiasi terhadap dolar AS. Bursa saham melemah. Sementara itu, yield obligasi regional meningkat
Dwi Nicken Tari | 16 Mei 2018 19:05 WIB

Kabar24.com, JAKARTA – Penguatan dolar AS, naiknya imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun, dan tensi geopolitik akhir-akhir ini memicu aksi jual di pasar negara berkembang. Nilai tukar mata uang terdepresiasi terhadap dolar AS. Bursa saham melemah. Sementara itu, yield obligasi regional meningkat.

 Dalam situasi seperti itu sejumlah perusahaan manajer investasi asing justru menilai ini saat yang tepat untuk masuk ke pasar negara berkembang.

Aberdeen Standard Investment, yang mengelola aset US$770 miliar, mengambil untung dari aksi jual untuk meningkatkan kepemilikannya di ruble Rusia, Rand Afrika Selatan, dan rupiah Indonesia.

Sementara itu, unit manajemen aset Goldman Sachs Group Inc. yang mengelola dana lebih dari US$1 triliun, meningkatkan kepemilikannya dalam surat utang negara berkembang, karena mereka memandang pelemahan baru-baru ini sangat berlebihan.

Menurut Ashmore Group Plc. penarikan arus modal dari pasar negara berkembang ini tidak ada hubungannya dengan fundamental. Pasalnya pertumbuhan ekonomi negara berkembang tetap solid.

"Kami tidak melihat apa-apa di dalam posisi pasar emerging market baru-baru ini, meskipun tentu saja mengubah outlook ekonomi emerging market. Kini saatnya untuk beli [masuk] ke emerging market, bukan jual," kata Jan Dehn, Kepala Riset Ashmore di London, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (16/5).

Adapun indeks nilai tukar Bloomberg yang mencakup delapan negara emerging market, terpantau melemah dalam empat minggu terakhir. Sebuah pengukuran mata uang negara berkembang mendekati level terendahnya pada tahun ini, sedangkan pasar saham melanjutkan penurunan setelah imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun naik ke atas 3%, level yang belum pernah disentuh sejak 2011 pada Selasa (15/5).

Sementara itu, Bloomberg Barclays—indeks utang pemerintah dalam mata uang lokal— telah jatuh selama lima pekan terakhir.

Goldman Sachs Asset Management menilai belum ada pelemahan yang meluas, dan masih ada kekuatan untuk memilih pasar emerging market. Adapun, perekonomian global terus tumbuh serta mendukung mata uang dan aset lainnya di luar AS, termasuk mata uang.

“Mata uang emerging market juga mulai tampak undervalue berdasarkan metrik valuasi tradisional, seperti diferensiasi tingkat suku bunga,” tulis Goldman Sachs Asset Management.

Senada, Morgan Stanley Investment Management meyakini faktor fundamental emerging market secara umum masih kuat dan periode performa buruk ini akan segera berakhir.

“Aset emerging market sekali lagi akan mulai outperform,” tulis Morgan Stanley dalam catatan.

Sementara itu, Co-Director of High Yield Amundi Pioneer Asset Management Kenneth Monaghan menilai kenaikan yield obligasi AS sebagai cerminan dari pertumbuhan, bukan risiko.

Dia memperkirakan, acuan untuk yield obligasi AS itu akan naik tidak lebih dari 3,25% hingga akhir tahun,kecuali ada faktor pendorong signifikan seperti inflasi maupun pertumbuhan PDB.

“Orang-orang telah menentukan level untuk Treasury AS. Ini seperti jika kita melangkah ke jurang itu maka dunia akan berakhir. Tapi saya tidak  memercayai teori itu. Jika ini mencerminkan pertumbuhan yang lebih baik lagi untuk ekonomi dan inflasi, pasar yield tinggi akan menyerapnya,” katanya.

Adapun, Aberdeen Standard Investment juga telah mengambil beberapa obligasi rupiah sehubungan  dengan prospek pengetatan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia. Lebih dari setengah ekonom yang disurvei Bloomberg memprediksikan akan ada kenaikan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur yang berakhir pada Kamis (17/5).

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, Bursa Negara Berkembang

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top