32 Kelompok Suku Dari 7 Negara Berkumpul di Bali

Sebanyak 32 kelompok suku dari 7 negara akan menampilkan kreasi budaya, berdiskusi hingga melakukan workshop terkait masyarakat adat di Arma Museum & Resort Bali dalam ajang bertajuk Indigenous Celebration 2018.
Feri Kristianto | 07 Mei 2018 13:17 WIB
Pengisi dan penggagas acara Indigenous Celebration 2018. - Bisnis/Feri Kristianto

Bisnis.com, DENPASAR—Sebanyak 32 kelompok suku dari 7 negara akan menampilkan kreasi budaya, berdiskusi hingga melakukan workshop terkait masyarakat adat di Arma Museum & Resort Bali dalam ajang bertajuk Indigenous Celebration 2018.

Khusus Indonesia, sebanyak 20 suku adat akan ikut bergabung dalam acara yang berlangsung pada 11-13 Mei 2018 ini. Ajang ini merupakan yang pertama kalinya mempertemukan suku-suku asli di Nusantara maupun luar negeri yang melebur dalam semangat kreasi budaya lokal.

David Metcalf, penggagas pertemuan, mengharapkan event ini bisa menjadi jembatan bagi pemuda dengan generasi tua adat. Menurutnya, masih terjadi gap antara generasi sesepuh dan muda dalam hal ilmu pengetahuan leluhur.

“Generasi tua memiliki banyak hikmat dan pengetahuan namun seringkali terkubur jauh dan mungkin akan hilang selamanya. Kami tidak ingin membiarkan itu terjadi dan Bali merupakan tempat ideal karena pusat dan jantung kreativitas,” paparnya di Denpasar, Senin (7/5/2018).

Pendiri Ranu Welum Emmanuela Shinta selaku penggagas acara mengatakan pertemuan ini merupakan salah satu upaya menghormati budaya warisan nenek moyang. Dia menegaskan pertemuan ini tidak sekadar acara selebrasi tetapi lebih penting dari hal itu.

“Acara ini merupakan kesempatan untuk menghormati budaya yang diwarisi nenek moyang, sekaligus identitas sebagai orang asli dari Nusantara,” jelasnya di Denpasar, Senin (7/5/2018).

Dia menyatakan akan ada tujuh kelompok seni budaya Dayak yang hadir. Menurutnya, kehadiran suku asli di Kalimantan tersebut sekaligus membantah stigma bahwa orang Dayak sebagai orang hutan atau pemburu kepala yang mengerikan.

Emmanuela menekankan bahwa ajang ini kesempatan bagi orang muda bagaimana mengambil posisi bahwa adat tidak hanya berkaitan dengan keindahan maupun tarian belaka. Masyarakat adat juga perlu mengambil advokasi terkait isu-isu lingkungan.

“Ini satu cara yang bisa digunakan karena selama ini demo dan protes sudah terjadi. Kami berusaha membawa inovasi tidak melulu suarakan hal sedih dan ini merupakan perjuangan,” jelasnya.

 

Tag : masyarakat adat
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top