Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Soal Racun Kimia, Rusia Kian Terpojok di DK PBB

Rusia gagal meyakinkan anggota dewan Keamaman PBB yang menjadi sekutu Inggris untuk mementahkan tuduhan negara itu bahwa Moskow bertanggung jawab atas serangan racun saraf kepada mantan agen mata-mata Rusia Sergei Skripal dan putrinya Yulia di Salisbury.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 06 April 2018  |  09:59 WIB
Soal Racun Kimia, Rusia Kian Terpojok di DK PBB
Presiden Rusia Vladimir Putin memasuki aula untuk bertemu dengan kandidat yang berpartisipasi dalam pemilihan presiden sesi terakhir, di Kremlin di Moskow. - Reuters
Bagikan

Kabar24.com, JAKARTA -- Rusia gagal meyakinkan anggota dewan Keamaman PBB yang menjadi sekutu Inggris untuk mementahkan tuduhan negara itu bahwa Moskow bertanggung jawab atas serangan racun saraf kepada mantan agen mata-mata Rusia Sergei Skripal dan putrinya Yulia di Salisbury.

Permitaan Rusia di PBB untuk mendesak Inggris bekerja sama dengan Moskow untuk melakukan investigasi bersama atas insdien tersebut ditolak oleh 15 negara sekutu utama Inggris. Termasuk di antara negara yang menolak adalah Prancis, AS, Polandia, Belanda dan Swedia.

Presiden Rusian Vladimir Putin tengah berupaya menggunakan forum internasional untuk mendiskreditkan Inggris dan sekutunya. Putin berupaya membentuk opini bahwa Inggris memiliki kepentingan tersembunyi dalam insiden itu dengan menuding Rusia berada di balik upaya pembunuhan tersebut.

AS dan Prancis sama-sama mengecam serangan yang dinilai merupakan pelanggaran atas penggunaan senjata kimia.“Keberanian menggunakan senjata kimia termasuk yang terjadi di Salisbury akan membuka pintu bagi serangan teroris bersenjatakan rac un kimia,” ujar Dubes Prancis untuk PBB, François Delattre sebagaimana dikutip Theguardian.com, Jumat (6/4).

Akan tetapi Vassily Nebenzia, Dubes Rusia untuk PBB menyatakan bahwa Inggris tengah mendelegitimasi Rusia.“Kami telah mengat akan kepada rekan kami dari Inggris bahwa Anda telah bermain api dan hal itu sangat disayangkan,” ujarnya.

Sementara itu, Duta Besar Inggris untuk PBB Karen Pierce mengatakan, Rusia menolak memberi bantuan ketika Inggris memintanya pada awal penyelidikan kasus peracunan tersebut.

Kepada Dewan keamanan PBB, Pierce menyampaikan, penyelidikan telah dilakukan karena  racun saraf yang digunakan untuk membunuh warga sipil di wilayah Inggris merupakan racun kelas militer."Itu dilakukan dengan sembrono dan tanpa memperhatikan keselamatan publik," katanya.

Kini kondisi Yulia telah berangsur membaik dan melontarkan pernyataan pertamanya kepada publik."Saya sudah sadar sejak seminggu lalu dan sekaran sayang senang tena ga saya bertambah tiap hari," katanya, seperti dikutip dalam rilis yang dikeluarkan kepolisian.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rusia
Editor : Fajar Sidik
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top