Denuklirisasi Akan Jadi Pembahasan Utama Pertemuan Korsel Korut

Korea Utara dan Korea Selatan akan mengadakan pertemuan puncak pertama mereka pada 27 April, kata pejabat Korea Selatan. Kepastian tersebut muncul setelah Kim Jong-un menjanjikan penghapusan nuklir, saat tekanan berkurang di antara musuh lama itu.
Abdalah Gifar | 30 Maret 2018 15:06 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un memberikan panduan program senjata nuklir dalam foto tak bertanggal yang dirilis Kantor Berita Pusat Korea Utara Korea Utara. - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA - Korea Utara dan Korea Selatan akan mengadakan pertemuan puncak pertama mereka pada 27 April, kata pejabat Korea Selatan. Kepastian tersebut muncul setelah Kim Jong-un menjanjikan penghapusan nuklir, saat tekanan berkurang di antara musuh lama itu.

Pejabat pemerintah Korsel mengumumkan tanggal pertemuan puncak itu setelah mengadakan pembicaraan antar-pejabat Korut pada Kamis.

Kedua negara itu pada awal bulan ini sepakat mengadakan pertemuan puncak di perbatasan, desa gencatan senjata.

Pembicaraan pada Kamis kemarin adalah yang pertama antara kedua negara itu,

Pernyataan bersama dari perundingan mengatakan kedua negara tersebut akan mengadakan rapat kerja pada 4 April untuk membahas rincian pertemuan puncak, seperti dukungan staf, keamanan dan rilis berita.

Tidak ada rincian mengenai agenda pertemuan puncak yang dirilis. Menteri Unifikasi Cho Myong-gyon mengatakan, kedua belah pihak sepakat bahwa lebih banyak waktu diperlukan untuk menyelesaikan rincian, meskipun mereka telah bertukar pendapat tentang agenda "sepenuhnya" pada Kamis.

Cho mengatakan agenda pertemuan puncak sebagian besar akan membahas denuklirisasi semenanjung Korea dan peningkatan hubungan antar-Korea, tetapi menolak untuk menjelaskan lebih lanjut.

"Kami masih memiliki cukup banyak masalah untuk diselesaikan pada rapat kerja untuk persiapan selama bulan depan," kata Ri Son-gwon, ketua komite Korut untuk penyatuan kembali negara secara damai dalam pidato penutupan kepada delegasi Korsel.

"Namun jika kedua belah pihak sangat memahami makna dan makna bersejarah dari pertemuan puncak ini dan memberikan segalanya, kami akan dapat menyelesaikan semua masalah dengan cepat dan damai," tambah Ri.

Korut dan Korsel telah mengalami pengurangan ketegangan secara signifikan sejak Olimpiade Musim Dingin di Korsel pada Februari. Secara teknis, kedua negara tersebut masih berperang setelah konflik 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata.

Kim juga dijadwalkan bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump nanti pada Mei untuk membahas denuklirisasi, meskipun waktu dan tempat untuk pertemuan puncak itu belum ditetapkan.

Kim bertemu Presiden China Xi Jinping dalam kunjungan mendadak ke Beijing minggu ini, perjalanan pertamanya keluar Korut sejak ia berkuasa pada 2011.

Yang lebih mengejutkan adalah janji Kim untuk denuklirisasi pada pertemuan puncak Korea. Komitmen itu dilaporkan oleh media pemerintah China, meskipun media resmi Korut tidak menyebutkannya.

Menteri Unifikasi Korsel mengatakan kepada wartawan bahwa kunjungan Kim ke China tidak dibahas dengan pejabat Korut pada Kamis.

Trump dan Kim saling bertukar ancaman dan hinaan dalam beberapa bulan terakhir. Pemimpin Amerika Serikat membuat pengumuman yang sama mengejutkan awal bulan ini bahwa ia siap bertemu Kim untuk membahas krisis atas pengembangan senjata nuklir Pyongyang yang mampu menghantam Amerika Serikat.

Keterlibatan pemimpin Korut dengan masyarakat antarbangsa memicu praduga bahwa ia kemungkinan mencoba bertemu dengan pemimpin lain. Surat kabar "Asahi" Jepang mengatakan bahwa Jepang menanyai Korut tentang pertemuan dwipihak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nuklir

Sumber : Antara
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top