Jual Barang Mewah Second, Perusahaan Jepang Ini Raih Rp636 Miliar dari IPO

Saking besarnya bisnis barang-barang second, sebuah perusahaan di Jepang yang khusus menjual barang-barang mewah bekas memutuskan melantai di bursa.
Annisa Margrit | 22 Maret 2018 12:38 WIB
Pegawai SOU memeriksa tas bermerek Louis Vuitton bekas di kantor perusahaan di Tokyo, Jepang. - Bloomberg/Kiyoshi Ota

Bisnis.com, JAKARTA -- Bisnis tas, perhiasan, dan barang-barang bermerek bekas alias second ternyata tak kalah besar dibandingkan dengan barang-barang yang dijual ke tangan pertama.

Di Indonesia, sering terdengar kalau ada selebriti yang menjalankan bisnis tas bekas. Meski barang second, tapi harganya tetap mahal dan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Bisnis ini tidak hanya berjalan di Indonesia. Saking besarnya bisnis barang-barang second, sebuah perusahaan di Jepang yang khusus menjual barang-barang mewah bekas memutuskan melantai di bursa.

Bloomberg melansir Kamis (22/3/2018), perusahaan bernama SOU Inc. itu dijadwalkan go public hari ini. Pendiri SOU Shinsuke Sakimoto mengatakan perusahaannya merupakan spesialis dalam membeli barang milik orang lain, bukan menjualnya.

"Perusahaan lain akan membuka toko untuk menjual barang-barang yang sudah dibelinya. Kami adalah perusahaan Business-to-Business (B2B), jadi kami menggunakan sistem lelang sehingga barang bisa terjual dengan cepat," ungkapnya.

Barang-barang bekas yang mereka dapatkan dan jual kembali bermacam-macam, termasuk Hermes dan Louis Vuitton. 

SOU mencatatkan pendapatan senilai 22,7 miliar yen dan laba sebesar 1,14 miliar yen, menurut laporan keuangan tahunan yang berakhir pada Agustus 2017. Nilai pendapatan tersebut setara dengan Rp2,95 triliun, sedangkan laba setara dengan Rp148 miliar.

Laporan pemerintah menyebutkan pasar barang mewah second bernilai hampir 200 miliar yen, atau hampir Rp26 triliun. Situs lelang yang dimiliki Yahoo Japan Corp. mendominasi pasar, tapi juga banyak situs lain yang menawarkan layanan ini.

SOU memiliki 57 gerai di seluruh Jepang. Toko-tokonya dibuat atraktif sehingga masyarakat bisa menjual barang-barangnya dengan nyaman.

Perusahaan ini berencana membuka lebih banyak gerai, yang sebagian dananya berasal dari hasil Initial Public Offering (IPO). Dalam aksi korporasi itu, SOU mendapatkan dana 4,9 miliar yen atau sekitar Rp636 miliar.

SOU memiliki kapitalisasi pasar senilai 24,5 miliar yen atau sekitar Rp3 triliun. Perusahaan tersebut menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 31% untuk tahun ini. 

Perseroan mengaku tengah mempertimbangkan untuk membuka gerai di luar Jepang, tapi tidak menyebutkan negara yang disasar.

"Pertumbuhan kami datang dari kemampuan kami mengumpulkan pelanggan, membeli barang-barang, lalu menjualnya dengan cepat," terang Sakimoto.

Dia melanjutkan perusahaannya tidak bergantung pada teknologi atau aplikasi di ponsel. Hal ini diperkirakan akan menjadi tantangan tersendiri bagi SOU untuk bisa bertahan dari para pesaingnya yang memanfaatkan berbagai aplikasi.

Sumber : Bloomberg

Tag : jepang
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top