Ditanya Siapa Cawapresnya, Jokowi: Sabar

Jokowi mengatakan nama calon wakil presiden itu masih terus diproses dan dimatangkan. Sejauh ini, dirinya belum bisa mengungkapkan siapa calon yang dimaksud.
Yodie Hardiyan | 27 Februari 2018 10:37 WIB
Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers seusai meresmikan pabrik bahan baku obat dan biologi milik PT Kalbio Global Medika di Cikarang, Jawa Barat, Selasa (27/2/2018). Presiden menilai pembangunan pabrik bahan baku farmasi ini merupakan wujud investasi yang dibutuhkan oleh Indonesia. - Bisnis/Yodie Hardiyan

Bisnis.com, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo belum banyak memberikan komentar mengenai siapa calon wakil presiden yang akan berpasangan dengan dirinya pada Pemilu Presiden 2019.

Jokowi mengatakan nama calon wakil presiden itu masih terus diproses dan dimatangkan. Sejauh ini, dirinya belum bisa mengungkapkan siapa calon yang dimaksud.

"Sabar, sabar," ujar Jokowi, seusai meresmikan pabrik bahan baku obat di Cikarang, Jawa Barat, Selasa (27/2/2018).

Menurutnya, nama calon wakil presiden itu masih dibahas oleh partai politik dan tim internal Jokowi sendiri.

Seperti diketahui, Jokowi secara resmi telah ditetapkan oleh partai politik pendukungnya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), untuk kembali berkompetisi dalam Pemilu Presiden tahun depan. Penetapan itu dilakukan dalam Rapat Kerja Nasional PDI-P di Bali pada pertengahan bulan ini.

Di sisi lain, beberapa nama telah masuk dalam wacana sebagai cawapres Jokowi. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) misalnya, mewacanakan Ketua Umum Muhaimin Iskandar sebagai cawapres walaupun partai tersebut menyatakan belum tentu calon presiden yang dimaksud adalah Jokowi.

Nama lain seperti Airlangga Hartarto juga diusulkan oleh sejumlah pihak. 

Adapun Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai ada dua kriteria pokok yang penting bagi cawapres untuk berpasangan dengan Jokowi dalam Pemilu Presiden 2019. Pertama, bisa menambah elektabilitas, harus menambah konstituen, harus dikenal, harus baik, dan harus ada pemilihnya.

Kedua, memiliki ketokohan dan kepemimpinan sehingga bisa menjadi Presiden jika diperlukan. Dia menyinggung pengalaman Megawati Soekarnoputri dan BJ Habibie yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden tapi kemudian menjadi Presiden.

Wakil Presiden juga mesti memiliki pengalaman dalam pemerintahan. JK menyatakan cawapres bisa berasal dari birokrat, profesional, maupun partai politik.

Tag : jokowi
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top