Cerita Presiden Jokowi Soal BRI, Bank Asing, dan Perguruan Tinggi

Presiden Joko Widodo menulis pengalamannya ketika mengenyam bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Surakarta di Solo, Jawa Tengah puluhan tahun silam.
Yodie Hardiyan
Yodie Hardiyan - Bisnis.com 19 Februari 2018  |  14:15 WIB
Cerita Presiden Jokowi Soal BRI, Bank Asing, dan Perguruan Tinggi
Presiden Joko Widodo - ANTARA/Wahyu Putro A

Kabar24.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo menulis pengalamannya ketika mengenyam bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Surakarta di Solo, Jawa Tengah puluhan tahun silam.

Pengalaman yang ditulis kali ini bukan soal kehidupan sekolah, tapi tentang suatu bank milik negara yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Bank ini memang telah ada sejak masa Jokowi bersekolah dulu pada 1970-an.

"Semasa duduk di bangku SMP, bank BRI di kota saya sudah tutup pada jam satu siang," tulis Jokowi dalam akun Facebook miliknya yang sudah diverifikasi pada Senin (19/2/2018).

Presiden melanjutkan, "Pegawainya sudah di rumah pada sore hari. Kenapa bisa begitu santai? Jawabannya sederhana, karena tidak ada pesaing. Tidak ada kompetisi."

Seperti kita tahu, dalam perkembangannya, bank yang beroperasi di Indonesia tidak lagi hanya bank milik negara.

Jokowi mengatakan bank-bank swasta dan bank asing masuk Indonesia dengan pelayanan nasabah yang bagus, kantor yang bersih, petugas yang ramah.

Dengan kondisi demikian, tulis Kepala Negara yang masa jabatannya akan habis pada 2019 tersebut, mau tidak mau BRI dan bank-bank nasional berbenah karena tidak mau ditinggal oleh pesaingnya.

"Sekarang coba Anda tanyakan ke keluarga atau kerabat yang bekerja di Bank BRI. Mereka pulang jam berapa? Biasanya malam, bahkan hampir larut malam. Di tengah persaingan ketat dengan bank asing dan bank swasta, BRI mencatatkan keuntungan terbesar pada tahun 2017 sebesar Rp29,04 triliun," papar Jokowi.

Dengan pengalaman soal bank itu, Presiden menyampaikan mengenai suatu usulan, bukan usul mengenai perbankan, melainkan mengenai perguruan tinggi, dari Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir.

Usulan dari Nasir itu disampaikan dalam konferensi Forum Rektor Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, pada pertengahan Februari 2018.

"Kata Pak Menteri, "Pak, ini perguruan tinggi kalau enggak berubah kita kasih kompetisi dengan universitas asing,” kata Jokowi mengutip pernyataan menterinya.

Mengenai usulan itu, Presiden mengaku belum setuju. Presiden meminta Menristekdikti berbicara terlebih dahulu dengan semua rektor, baik negeri maupun swasta.

"Kalau tanpa diberi kompetitor bisa berubah ya tidak usah. Tapi kalau kita tunggu tidak ada perubahan, ya kita beri kompetitor," tutup Jokowi dalam status akun Facebooknya yang memiliki lebih dari 8 juta pengikut tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, Jokowi

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top