5 Langkah Kelola Stres Anda

Tekanan serta jenuh dari rutinitas pekerjaan sering menjadi pemicu stres di tempat kerja.
Asteria Desi Kartika Sari | 17 Februari 2018 10:07 WIB
Tanaman hijau kurangi stres di kantor - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Pernahkan Anda merasa bahwa pekerjaan seolah tak pernah habis? Tekanan serta jenuh dari rutinitas pekerjaan sering menjadi pemicu stres di tempat kerja.

Lebih parah lagi, masalah keluarga terbawa dalam pekerjaan menambah sederet daftar penyebab stres.

Akibatnya bisa fatal seperti frustasi jika stres tidak segera ditangani. Lebih jauh, kinerja di kantor turun atau bahkan membuat karyawan hengkang dari perusahaan karena tidak bisa membagi waktu dengan keluarga.

Apalagi buat kaum hawa, keputusan antara mengejar karier atau anak sering kali membuat galau dan stres.

Psikolog anak dan keluarga Brawijaya Clinic Samanta Ananta menuturkan, stres memang kerap kali terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat risiko stres seorang ibu yang berkarier lebih tinggi karena tuntunan yang terlalu banyak, seperti harus mengurus anak, suami, dan kewajiban bekerja.

Lalu bagaimana mengelola stres tersebut? Samanta mengatakan bahwa hal pertama yang perlu diketahui adalah sinyal stres. Pasalnya, kebanyakan orang tidak menyadari apa yang dirasakan adalah  stres.

Beberapa sinyal stres yaitu nafsu makan justru bertambah, jantung berdebar lebih sering, perasaan was-was yang berlebihan yang mengakibatkan susah tidur.

“Kondisi lingkungan juga dapat membuat lebih was-was. Selain itu kebutuhan finansial, perkembangan teknologi sering kali membuat kita parno,” kata Samanta.

Guna mengelola stres tersebut hal yang perlu dilakukan adalah:

1. ATUR JADWAL

Jadilah master dan buatlah jadwal apa ingin dilakukan. Artinya Anda dapat mengatur jadwal secara konsisten untuk mengatur kebiasaan sehari-hari. Salah satu contoh, atur waktu dengan benar untuk bangun pagi secara teratur.

2. TENTUKAN PRIORITAS

Tentukan prioritas. Anda dapat menentukan apa yang menjadi prioritas dalam hidup. Minimal mengetahui apa yang membuat Anda menjadi bahagia. Dengan membuat skala prioritas, maka Anda akan melihat dengan jelas apa yang perlu dilakukan segera.

3. DISKUSI

Ketika akan mengambil keputusan, sebaiknya didiskusikan dengan keluarga untuk mengetahui efek jangka pendek dan jangka panjang. Supaya nanti tidak ada masalah besar di kemudian hari.

4. VISI 

Tentukan visi masa depan dalam bentuk smart goal (specific, measurable, attainable, relevant, dan time bound).

5. JADI DIRI SENDIRI 

Jangan mengejar kesuperan, jadilah Anda sendiri. Tidak ada super mom ataupun super dad. Intinya, sih, Anda harus bisa menjalankan peran kamu baik sebagai karyawan atau anggota keluarga dengan baik.

Noval Kalahkan Presiden di Uji Materi, Pungutan Terkait STNK Ini Harus Dihapus

MINIMALISASI STRES

Relaksasi juga dapat membantu dalam mengelola stres. Anda dapat mencoba meditasi atau yoga. Beberapa  catatan di bawah ini kemungkinan dapat diterapkan untuk meminimalisir tingkat stres.

Pertama, bernafaslah dalam-dalam. Karena pada saat stres, tubuh kamu cenderung bernafas lebih cepat dari biasanya. Cara ini dapat membuat tubuh kamu rileks dan mengurangi tingkat stres kamu. Cobalah lakukanlah cara ini berulang kali.

Kedua, child pose atau posisi bayi tidur tengkurap untuk meregangkan seluruh saraf. Hal tersebut dapat dilakukan selama 20 detik secara berulang-ulang. Hal tersebut dapat kamu melancarkan peredaran darah ke seluruh bagian tubuh, juga otak.

Lakukan sedikit olehraga jika tubuh dan pikiran kamu lelah dan jenuh dengan pekerjaan. Hal ini tidak hanya dapat membuat kamu lebih rileks.

Ketiga, manjakan diri sendiri. Untuk mencegah stres berkelanjutan, lakukan me time, yaitu semacam masa-masa santai sendiri, minimal sekali dalam seminggu. Ingat, jangan pernah lampiaskan stres pada konsumsi minuman beralkohol, obat-obatan, dan rokok karena justru akan memperburuk kondisi.

Selain itu, jangan pernah menyimpan masalah Anda sendiri, cobalah untuk berbagi dengan orang-orang yang dipercayai. Jika sudah tidak mampu mengelola stres sendiri atau bingung, pertimbangkanlah untuk berkonsultasi dengan psikolog.

Tag : stres
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top