BOM NEW YORK: Sebelum Serangan, Akayed Ullah Posting Peringatan Ke Trump di Facebook

Akayed Ullah sebelum serangan tersebut menulis sebuah posting di Facebook yang berbunyi: "Trump Anda gagal melindungi bangsamu."
Martin Sihombing | 13 Desember 2017 00:57 WIB
Akayed Ullah, pelaku ledakan di lorong stasiun kereta bawah tanah yang terhubung dengan Port Authority Bus Terminal, satu blok dari Times Square, Manhattan, New York. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pembom terminal bus di New York City Akayed Ullah dituduh melakukan pelanggaran teror.

"Imigran Bangladesh itu dituduh memberikan dukungan kepada sebuah organisasi teroris dan menggunakan senjata pemusnah massal," kata jaksa federal.

Ullah, 27, terluka dalam serangan di Pos Otoritas Bus Terminal di Manhattan pada Senin (11/12) pagi.

Perangkat kasar yang diikat ke tubuhnya meledak saat jam sibuk. Tiga orang lainnya menderita luka ringan.

Departemen Kepolisian New York (NYPD) men-tweet pada Selasa bahwa Ullah telah dikenai pidana kepemilikan senjata, mendukung tindakan terorisme dan membuat "ancaman teroris".

Jaksa AS kemudian mengumumkan tuduhan terkait teror federal.

Petugas polisi terlihat berada di luar Terminal Bus Otoritas Pelabuhan New York, setelah dilaporkan  sebuah ledakan di New York City/Reuters

 

Ullah mengatakan kepada penyidik dia telah membuat bom di rumah menggunakan bahan-bahan yang mencakup lampu lampu Natal, kata jaksa penuntut umum. Perangkat itu ditempelkan di tubuhnya dengan tali Velcro.

Dia mengaku melakukan "hal itu untuk Negara Islam [ISIS]" dan dimotivasi oleh serangan udara AS terhadap target ISIS, menurut keluhan federal yang diajukan oleh jaksa.

Mereka mengatakan sebelum serangan tersebut dia menulis sebuah posting di Facebook yang berbunyi: "Trump Anda gagal melindungi bangsamu."

Rumah tersangka di wilayah Brooklyn di New York City sedang dicari. Polisi yakin dia bertindak sendiri.

Suasana kota New York, AS usai ledakan pada Senin (11/12/2017)/Reuters

 

Deputi Komisaris Intelijen dan Kontraterorisme NYPD John Miller mengatakan kepada CBS tersangka "tidak terlalu kuat secara finansial" dan tidak berada di radar polisi atau FBI.

"Ini agak khas dari apa yang kita lihat di seluruh dunia, yang adalah seseorang yang muncul suatu hari, tiba-tiba," katanya pada Selasa (12/12/2017).

Ullah beremigrasi ke AS dengan visa keluarga pada 2011 dari daerah Chittagong di Bangladesh.

Pemerintah Bangladesh mengatakan dia tidak memiliki catatan kriminal di negara tersebut, yang terakhir dia kunjungi pada September. Kunjungan tersebut berlangsung sekitar enam minggu, pamannya mengatakan kepada kantor berita Associated Press.

Istri Ullah tidak bergabung dengannya di AS. Dia dan anggota keluarga lainnya sekarang ditanyai untuk mencoba memahami bagaimana dia mengalami radikalisasi.

Presiden AS Donald Trump mengatakan serangan Senin, yang menyusul serangan teror di Manhattan pada Oktober yang menewaskan delapan orang, " highlights jadi kebutuhan mendesak ... untuk memberlakukan reformasi legislatif untuk melindungi rakyat Amerika".

"Amerika harus memperbaiki sistem imigrasi yang lemah, yang memungkinkan terlalu banyak orang yang berisiko dan tidak memiliki hak untuk mengakses negara kita," kata Trump menambahkan.

Sumber : bbc.com

Tag : bom
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top