'Sakit Kepala' Terbesar dari Sisi Kebijakan

Sang tuan rumah pertemuan puncak G20 pekan depan memandang Trump dan doktrin America First sebagai sakit kepala terbesar dari sisi kebijakan.
Kurniawan A. Wicaksono | 30 Juni 2017 06:22 WIB
Jendela-jendela pertokoaan Karstadt di Jerman dilindungi dengan kayu sebelum pelaksanaan pertemuan G20 di Hamburg Jerma, 29 Juni 2017. - Reuters

Bisnis.com, HAMBURG – Sang tuan rumah pertemuan puncak G20 pekan depan memandang Trump dan doktrin ‘America First’ sebagai sakit kepala terbesar dari sisi kebijakan.

Seperti dilansir dari Reuters, pada pertemuan puncak G20 sebelumnya, konsesus barat dipimpin oleh Amerika Serikat (AS). Sementara, Eropa akan mendorong negara-negara seperti Rusia, China, India, dan Brasil untuk mengikuti jejaknya. Namun, sejak Trump memimpin AS, konsesus barat runtuh.

Trump mengabaikan permintaan dari sekutunya saat KTT G7 di Sisilia bulan lalu. Selain itu, pemimpin Negeri Paman Sam ini mengumumkan bahwa pihaknya akan menarik diri dari kesepakatan iklim Paris. Selain itu, pemerintahannya mengancam negara-negara seperti Jerman dan China dengan langkah dagang yang menyerang.

Peneliti senior di Elcano Royal mengatakan tidak ada posisi barat yang jelas pada saat ini. Hal inilah yang menjadi perubahan besar dalam landscape internasional. “Semuanya terbuka” tutur Speck.

Kanselir Jerman Angela Merkel mencatat bahwa dunia telah menjadi kurang bersatu dan mengakui diskusi pada pertemuan G20 di Hamburg mendatang akan sangat sulit. Padahal, agenda dalam pertemuan tersebut akan lebih banyak pada perdagangan bebas, perubahan iklim, dan migrasi.

Dia menyebut negara-negara yang beralih arah ke isolasi dan proteksionisme membuat kesalahan yang serius. Menurutnya, G20 terjadi di tengah tantangan tertentu. Dia yakin bahwa seluruh negara membutuhkan G20 lebih mendesak dari pada sebelumnya.

“Siapapun yang percaya bahwa Anda bisa memecahkan masalahan melalui isolasi dan proteksionisme membuat kesalahan besar,” kata Merkel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
g20

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top