Ini Konsep Robot yang Bakal Membersihkan 500.000 Keping Sampah Antariksa

Peneliti Amerika dari Stanford University dan Jet Propulsion Laboratory (JPL) dari Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional A.S. (NASA) menggabungkan perekat yang terinspirasi dari hewan tokek dan robot penggenggam untuk mampu menyambar puing-puing di ruang angkasa.
Newswire | 29 Juni 2017 13:19 WIB
Lebih dari 500.000 puing atau "sampah antariksa" dilacak saat mengorbit Bumi. Mereka semua bergerak dengan kecepatan 17.500 mil per jam, cukup cepat bagi potongan kecil puing orbital untuk merusak satelit atau pesawat antariksa. (NASA - Antara)

Kabar24.com, SAN FRANCISCO - Peneliti Amerika dari Stanford University dan Jet Propulsion Laboratory (JPL) dari Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional A.S. (NASA) menggabungkan perekat yang terinspirasi dari hewan tokek dan robot penggenggam untuk mampu menyambar puing-puing di ruang angkasa.

Terdapat sekitar 500.000 keping puing-puing buatan manusia mengorbit bumi saat ini dengan kecepatan 17.500 mil atau 28.160 kilometer per jam.

Untuk membersihkannya, beberapa alat yang digunakan yakni gelas hisap ternyata tidak bekerja dalam ruang hampa.

Sementara itu, zat perekat tradisional seperti pita, sebagian besar tidak berguna karena bahan kimia yang mereka andalkan tidak dapat menahan ayunan suhu ekstrem. Dan magnet hanya bekerja pada benda yang bersifat magnetis.

"Untuk mengatasi kekacauan itu, apa yang telah kami kembangkan adalah robot penggenggam (gripper) yang menggunakan perekat yang terinspirasi dari tokek," kata Mark Cutkosky, profesor teknik mesin di Stanford dan penulis sebuah makalah yang diterbitkan dalam Science Robotika edisi 27 Juni.

Tokek bisa memanjat dinding karena kaki mereka memiliki lipatan mikroskopis yang bila menempel sempurna dengan permukaan, membuat gaya Van der Waals antara kaki dan permukaan.

Gaya Van der Waals merupakan gaya tarik menarik listrik yang relatif lemah akibat kepolaran molekul yang permanen atau terinduksi.

Perekat yang ada pada tokek dikembangkan oleh laboratorium Cutkosky, sebelumnya telah digunakan untuk robot pemanjat dan sistem yang memungkinkan manusia memanjat permukaan tertentu.

Gripper bekerja tidak semudah kaki tokek, tapi perekatnya bekerja dengan cara yang sama. Seperti kaki tokek, hanya lengket jika penutup didorong ke arah yang spesifik, namun membuatnya tetap menempel memerlukan dorongan ringan ke arah yang benar.

Gripper memiliki kotak kotak perekat di bagian depan dan lengan dengan perekat tipis yang bisa dilipat dan bergerak ke arah tengah robot dari kedua sisi, seolah-olah menawarkan pelukan.

Kotak itu bisa menempel pada benda-benda datar, seperti panel surya, sementara lengan bisa meraih benda melengkung, seperti tubuh roket.

Kelompok peneliti ini telah menguji robot penggenggam mereka, dan versi yang lebih kecil, di laboratorium mereka dan di beberapa ruang eksperimental gravitasi nol, termasuk Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Langkah selanjutnya untuk gripper, yang sekarang terbuat dari kayu lapis berpotongan laser dan karet gelang, yang akan menjadi rapuh di luar angkasa, melibatkan persiapan untuk melakukan pengujian di luar stasiun luar angkasa, termasuk membuat versi yang terbuat dari bahan tahan lama yang mampu bertahan di tingkat radiasi dan suhu yang ekstrim. Demikian dilaporkan Xinhua.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
antariksa

Sumber : Antara
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top