Shinta Kamdani Terima Penghargaan dari Raja Swedia Carl XVI Gustaf

Penganugerahan penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi dari Raja Swedia karena keberhasilan Shinta membangun dan memperkuat kerjasama berkelanjutan dengan pemerintah dan pengusaha dari kedua negara, Indonesia-Swedia.
Saeno | 24 Mei 2017 13:38 WIB
Shinta Widjaja Kamdani saat menerima bintang penghargaan dari Raja Swedia Raja Carl XVI Gustaf, Selasa (23/5/2017). - Istimewa

Kabar24.com, JAKARTA - CEO Sintesa Group, Shinta Widjaja Kamdani, menerima penghargaan dari Pemerintah Swedia.

Penghargaan berupa Commander of The Polar Star itu disematkan langsung oleh Raja Carl XVI Gustaf dari Swedia, Selasa (23/5/2017).

Penganugerahan penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi dari Raja Swedia karena keberhasilan Shinta membangun dan memperkuat kerjasama berkelanjutan dengan pemerintah dan pengusaha dari kedua negara, Indonesia-Swedia.

"Selama ini saya lakukan peran sebagai penghubung kerjasama antarkedua negara, yaitu Indonesia-Swedia, karena saya melihat banyak sekali yang bisa kita ambil dengan mempererat hubungan dengan mereka. Selain itu, ini merupakan salah satu amanah yang saya emban di KADIN Indonesia. Penghargaan Commander of The Polar Star ini, menjadi sebuah kehormatan dan pengakuan bagi saya, yang artinya, program Link & Match harus terus saya lakukan, baik dengan pemerintah dan pengusaha Swedia, maupun dengan pemerintah dan pengusaha dari negara lain..." jelas Shinta, dikutip dari keterangan resmi, diterima Rabu (24/5/2017).

Raja Swedia beserta Ratu Silvia ke Indonesia dengan membawa sebanyak 35 pimpinan perusahaan asal Swedia. Mereka berminat berinvestasi di Indonesia.

Melalui Forum Eksekutif Indonesia-Swedia yang diadakan pada hari yang sama, terdapat empat sektor khusus yang menjadi perhatian pelaku bisnis kedua negara, yaitu : sektor digital, infrastruktur, kesehatan dan pengembangan ketrampilan generasi muda.

Shinta menjelaskan, hubungan bilateral Indonesia-Swedia dimulai sejak 1950.

Berdasarkan catatan KADIN Indonesia, perdagangan Indonesia-Swedia menunjukkan tren yang menurun.

Pada 2013, nilai perdagangan tercatat sebesar US$ 987,9 juta, dan turun menjadi US$ 838 juta pada 2015.

Angka ini kembali turun menjadi US$ 670,8 juta pada 2016. Saat ini Swedia merupakan mitra dagang terbesar ke-38 di Indonesia.

Terbalik dengan nilai perdagangan, realisasi investasi Swedia di Indonesia, justru terus meningkat, dari US$ 0,7 juta tahun 2013, menjadi US$ 4,5 juta pada 2016.

Bahkan, pada kuartal pertama 2017, nilai investasi Swedia ke Indonesia sudah mencapai US$ 8,7 juta.

Swedia merupakan investor terbesar ke-41 pada 2016, dengan nilai US$ 4,5 juta, dengan investasi terbesar di sektor perdagangan dan kertas.

Saat ini sektor yang paling ingin dikembangkan Swedia di Indonesia adalah infrastruktur, khususnya transportasi.

Kerjasama Bombardier-INKA untuk pembuatan gerbong kereta api merupakan salah satu contoh kerjasama yang saling menguntungkan. Indonesia mendapatkan alih teknologi tinggi dan Swedia mendapatkan keuntungan nilai produksi yang kompetitif untuk bisnisnya.

Khusus terkait isu lingkungan, pemerintah Swedia berjanji akan terus mendorong penggunaan teknologi ramah lingkungan, melalui organisasi yang ada di Indonesia, yaitu Indonesia Business Council for Sustainable Development dan Asosiasi Pengusaha Indonesia.

Di bidang bisnis, kerjasama dilakukan melalui KADIN dengan Business Sweden (Swedish Trade & Invest Council) dan beberapa pengusaha asal Swedia.

Shinta yang juga menjabat President Indonesia Business Council for Sustainable Development menjelaskan, IBCSD bertujuan untuk mempercepat komitmen perusahaan di bidang kehutanan untuk menghilangkan deforestasi dari rantai pasokan mereka.

IBCSD berperan sebagai organisasi host regional untuk Tropical Forest Alliance 2020 di Asia Tenggara, sejak 2016.

Sementara untuk kerjasama di bidang energi, pada bulan Februari 2017 lalu, Inisiatif Union untuk Solusi Energi Berkelanjutan Indonesia-Swedia (INSIST) telah berhasil diluncurkan.

Tujuan kerjasama ini adalah meningkatkan kerjasama inovasi teknologi untuk pengembangan energi terbarukan.

Shinta berharap, dengan penghargaan yang diterimanya dari pemerintah Swedia, akan membuat awal kebangkitan baru bagi peningkatan kerjasama Indonesia-Swedia ke depan.

“Saya ingin, setelah selesainya pertemuan bilateral dan forum bisnis ini, segala hambatan perdagangan yang masih terjadi di kedua negara, akan bisa diselesaikan lebih cepat, mengingat dalam beberapa tahun terakhir, perdagangan Indonesia-Swedia terus mengalami penurunan,” tutup Shinta.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top