Anak-Anak Muda dari 23 Negara Asing Ngaji di Pesantren Tertua Ini

Sebanyak 82 mahasiswa dan pemuda dari 23 negara asing ditambah 25 mahasiswa dan pemuda dari Indonesia mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Kahfi Somolangu, Kebumen, Jawa Tengah.
Saeno | 19 Mei 2017 17:55 WIB
Ana Cristina Valdes Cordovez (kedua kanan), salah satu peserta asing berfoto bersama peserta GIYE 2017 lainnya. - Istimewa

Kabar24.com, KEBUMEN - Jumat (19/5/2017) kegiatan yang diselenggarakan Gerakan Pemuda Ansor bertajuk Global Intercultural Youth Exchange atau GIYE 2017 memasuki hari kedua.

Sebanyak 82 mahasiswa dan pemuda dari 23 negara asing ditambah 25 mahasiswa dan pemuda dari Indonesia mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Kahfi Somolangu, Kebumen, Jawa Tengah.

Demikian keterangan resmi dari pihak GIYE, diterima Jumat (19/5/2017).

Ponpes Al-Kahfi Somolangu merupakan salah satu ponpes tertua di Asia Tenggara. Ponpes ini didirikan Syaikh as-Sayid Abdul Kahfi al-Hasani pada 25 Sya’ban 879 H atau bertepatan 4 Januari 1475 M.

Rombongan peserta GIYE tiba di Ponpes Al-Kahfi Somolangu, Jumat (19/5/2017) dini hari. Setelah cukup istirahat, sarapan dan diterima pengasuh ponpes, mereka diperkenalkan pada seluk-beluk pesantren. Mulai dari sejarah dan perkembangan, situs dan prasasti, serta berinteraksi langsung dengan para santri dan masyarakat sekitar ponpes.

“Saya sangat senang mengikuti acara ini karena saya bisa bertemu dan mengenal dunia pesantren. Perempuannya memakai hijab. Orangnya ramah-ramah,” ujar Ana Cristina Valdes Cordovez, salah satu pelajar delegasi dari Ecuador.

Ana tampak antusias dan senang mengenakan hijab. Souvenir dari ponpes itu ia gunakan untuk berfoto ria di lingkungan pesantren.

“Saya punya thesis bahwa hijab tidak identik dengan teroris,” ujar Ana, yang beragama Katolik.

Sementara Xander Laurence Victor Somers, salah satu pemuda delegasi dari Belanda, mengatakan bahwa acara ini sangat memotivasinya untuk mengenal lebih mendalam tentang Islam dan budaya Indonesia, serta menambah networking antarpemuda dari berbagai negara.

“Kegiatan ini memberikan banyak hal baru, dan acaranya seru,” ujar Xander.

Ngaji berikutnya dilakukan pada sore hari yang dikemas dalam bentuk seminar dan talkshow dengan tema Islam dan Budaya Nusantara.

Narasumber pada acara ini diantaranya tokoh, ulama, akademisi, dan budayawan, yakni Habib Faishol, Suratno, Romo Donny Satryowibowo, dan Kiai Nurul Huda.

Pada malam harinya, peserta disuguhi Gala Dinner ala Santri. “Para peserta diajak makan bareng dengan para santri, makan dalam satu penampan, duduk lesehan beralaskan tiker, makan langsung pakai tangan tanpa sendok. Inilah wujud kesederhaan dan kebersamaan yang membudaya di pesantren,” kata Hasyim Habibi, ketua pelaksana GIYE 2017 GP Ansor.

Tak kalah menarik, ada juga acara Intercultural Night Show, ajang para peserta menampilkan seni dan budaya negara masing-masing.

M. Fatkhul Maskur, Wasekjen GP Ansor, mengatakan, pesantren adalah pusat pendidikan dan pusat dakwah. Pesantren menjadi bagian terpenting dari Nahdlatul Ulama yang mengusung dan mempromosikan Islam Nusantara. Islam yang menyatu dengan budaya Nusantara, Islam Rahmatan Lil’alamin.

“Kegiatan ini tidak sekadar mengenalkan budaya pesantren dan nilai-nilai Islam Nusantara, tetapi juga mengajak peserta terlibat dan merasakan langsung bagaimana nilai-nilai Isalm Nusantara itu tumbuh berkembang di dunia pesantren. Mereka diharapkan lebih mengenal wajah Islam yang toleran dan membawa kedamaian”, ujarnya.

Sejarah Pesantren Al-Kahfi Somalangu

Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu merupakan pondok pesantren yang terhitung cukup tua keberadaannya, bahkan di Asia Tenggara. Pondok pesantren ini ada sejak 1475 M.

Tahun dan waktu berdirinya dapat diketahui di antaranya melalui Prasasti Batu Zamrud Siberia (Emerald Fuchsite) berbobot 9 kg yang ada di dalam masjid pondok pesantren tersebut.

Ciri khas pondok pesantren yang didirikan pada awal Islam masuk di Nusantara adalah adanya sebuah masjid di dalamnya.

Prasasti batu yang mempunyai kandungan elemen kimia Al, Cr, H, K, O, dan Si ini bergambar hewan bulus berkaki tiga serta bertuliskan huruf Jawa & Arab. Huruf Jawa menandai candra sengkalanya tahun dengan bunyi “Bumi Pitu Ina”. Sedangkan tulisan huruf Arab adalah penjabaran dari arti candra sengkala tahun dalam kalender Hijriyah.

Terlihat jelas angka dan tanggal yang tertera dalam huruf Arab pada prasasti batu itu berbunyi  “25 Sya’ban 879 H” atau bersamaan dengan Rabu, 4 Januari 1475 M.

Pendiri ponpes ini, Syaikh as-Sayid Abdul Kahfi al-Hasani, berasal dari Hadhramaut, Yaman. Lahir pada tanggal 15 Sya’ban 827 H di kampung Jamhar, Syihr.

Ia datang ke Jawa tahun 852 H/1448 M ketika masa pemerintahan Prabu Kertawijaya Majapahit atau yang dikenal dengan julukannya Prabu Brawijaya I (1447 – 1451).

Ponpes ini baru didirikan setelah 27 tahun kedatangan Syaikh as-Sayid Abdul Kahfi al-Hasani di pulau Jawa.

Dengan konsep Al-kahfi Islamic Boarding Schhol, saat ini Pesantren Al-kahfi Somalangu berkembang pesat dengan konsep semi modern.

Telah berdiri lembaga pendidikan formal SMK Ma’arif Somalangu, SMA Islam Al-kahfi Somalangu, dan SMP Islam Al-kahfi Somalangu.

Pesantren saat ini diasuh KH. Afifudin Khanif Al-Hasani.

Tag : pesantren
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top