RISET IPB: Kulit dan Kepala Udang Ternyata Bermanfaat untuk Biomedis dan Farmasi

Kulit dan kepala udang mengandung senyawa kimia bermanfaat untuk biomedis dan farmasi.
Newswire | 28 April 2017 06:38 WIB
Ilustrasi: Kulit udang halus - Antara

 

Kabar24.com, BOGOR - Jangan remehkan udang, walau ada istilah yang menyebut orang bodoh sebagai si otak udang.

Nyatanya, menurut Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB Prof Purwantiningsih, kulit dan kepala udang mengandung senyawa kimia, kitin pada kulit dan kepala udang bisa diubah menjadi kitosan yang bermanfaat untuk biomedis dan farmasi.

"Salah satu manfaat kitosan di bidang biomedis atau farmasi adalah sebagai material untuk pengantar obat ke target atau mengendalikan pelepasan obat sesampainya ke target," kata Purwanti di Kampus IPB Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/4/2017). 

Ia mengatakan limbah kulit dan kepala udang besarnya mencapai 50% sampai 60% dan masih mengandung senyawa kimia, di antaranya kitin yakni sebesar 20% sampai 30%.

Berdasarkan riset yang dilakukannya, Purwanti menyebutkan komposit kitosan-alginat mampu menahan pelepasan ketoprofen atau obat antiradang "non steroid" biasanya untuk obat rheumatik dalam emdium asam, dan melepas kandungan obat ketoprofen 10,69%.

Sedangkan dalam medium basa, lanjutnya, mampu melepas obat ketoprofen sebesar 80% sampai 99,58%.

"Obat rheumatik atau ketoprofen jika dikonsumsi terus menerus akan menumpuk di lambung sehingga menimbulkan tukak lambung," katanya.

Namun, lanjutnya, setelah ketoprofen dilapisi kitosan, obat yang terlepas di lambung dalam kondisi asam hanya 10% dan pelepasan obat maksimum sebesar 80% sampai 90$ saat obat sampai di usus dalam kondisi basa.

"Artinya pelapisan ini bisa mencegah tukak lambung dan obat tepat sasaran," katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, komposit kitosan bertaut silang glutaraldehid dengan penambahan hidrokoloid alginat menujukkan ciri membran film yang lebih unggul.

Difusi ketoprofen melalui komposit ini diawali dengan proses pembengkakan membran kitosan saat menyatu dengan cairan.

Purwati mengungkapkan awalnya membran memiliki pori, setelah membengkak membran memiliki lubang-lubang dangkal yang tidak menembus permukaan membran.

"Pembengkakan membran menyebabkan rongga menjadi lebih besar dan pori membran menjadi terbuka. Proses pembukaan pori ini yang unik dan sangat baik untuk digunakan dalam pengantar obat," katanya.

Purwanti menambahkan stabilitas mikrokapsul tersebut sangat tinggi dengan usia guna 14 pekan dan mampu menjaga kualitas obat hingga tiga bulan penyimpanan.

Ketoprofen yang masih tersalut masih di atas 90% dari kadar awalnya.

"Perlu kampanye secara masif atas keunggulan ini dan perlu ada rencana induk kitosan, baik tekniknya secara kimiawi maupun manfaatkan enzim dari spesies hayati untuk sintesisnya," kata Purwanti.

Sumber : Antara

Tag : riset, udang
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top