Ada Pergeseran Tren Merger dan Akuisisi di Indonesia

Perlambatan aktivitas merger dan akuisisi Asia Tenggara ikut berpengaruh pada realisasi kesepakatan aksi korporasi di Tanah Air.
David Eka Issetiabudi | 24 April 2017 20:38 WIB
Merger - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Perlambatan aktivitas merger dan akuisisi Asia Tenggara ikut berpengaruh pada realisasi kesepakatan aksi korporasi di Tanah Air.

Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf mengatakan jumlah notifikasi yang masuk ke Komisi pada kuartal I/2017 tidak sebanyak kinerja periode yang sama tahun lalu. Tidak hanya bicara kuantitas, sektor usaha yang mendaftarkan notifikasi juga mengalami pergeseran.

"Finansial mulai berkurang, begitu pula sektor perkebunan. Sepertinya ada indikasi arahnya akan banyak ke manufaktur,” tuturnya saat dihubungi Bisnis.com, Senin (24/4/2017).

Sepanjang tahun lalu, memang pelaku dari manufaktur yang paling banyak melakukan aktivitas M&A, diikuti oleh infrastruktur serta keuangan. Mayoritas aksi korporasi melakukan akuisisi sebanyak 62 notifikasi, sedangkan merger dua pemberitahuan.

Syarkawi mengatakan pemulihan ekonomi global menjadi salah satu hambatan, mengapa kesepakatan korporasi mengalami penurunan kinerja. Perlambatan kinerja di Tanah Air, sama seperti fenomena yang terjadi di Asia Tenggara.

Berdasarkan rilis dari Mergermarket, M&A di Asia Tenggara pada kuartal I/2017 tercatat 92 transaksi dengan total nilai US$7,3 miliar, atau menurun 43,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Malaysia merupakan negara yang paling aktif dalam aktivitas M&A dengan 26 transaksi senilai US$1,9 miliar. Walaupun paling aktif, nilai transaksi di Malaysia kalah dibandingkan dengan Thailand yang membukukan transaksi US$2 miliar, dengan 12 kesepakatan.

Analis Mergermarket Jade Lee mengatakan kinerja kuartal pertama tahun ini merupakan yang paling lambat sejak 2010. Ketidakpastian politik di beberapa negara Asean disebut menjadi salah satu penyebabnya.

“Sektor mineral dan energi merupakan sektor yang paling banyak melakukan aktivitas, dengan total 10 transaksi senilai US$1,3 miliar,” tuturnya

Aktivitas di sektor energi dan mineral didukung oleh kesepakatan Shell dengan Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company (KUFPEC) Thailand Holdings Pte Limited, untuk penjualan anak perusahaan Shell Integrated Gas Thailand Pte Limited dan Thai Energy Co Limited senilai US$900 juta.

Untuk sektor lainnya, farmasi dan bioteknologi misalnya, juga menarik perhatian pada periode ini. Tercatat ada 6 kesepakatan senilai US$776 juta, atau nilainya jauh lebih besar dibandingkan kinerja Kuartal I/2016, yang hanya terpaut empat kesepakatan saja.

Jade menambahkan menjelang paruh kedua tahun ini, aktivitas M & A akan berlanjut dengan sejumlah kesepakatan ekuitas swasta senilai US$500 juta, seperti dari SPi Global berbasis Filipina yang dapat diumumkan pada tahun ini,

“Ada juga konsolidasi terutama di bidang telekomunikasi,” katanya.

Sementara itu, aktivitas M&A perusahaan Asean ke asing (inbound) mengalami penyusutan US$3,3 miliar dengan 37 transaksi pada kuartal I/2017 atau nilainya turun 25,4% dan enam transaksi lebih sedikit dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Untuk transaksi outbound, tercatat US$4 miliar, atau naik 83,7% nilainya, tetapi secara transaksi mengalami penurunan dengan 16 transaksi lebih sedikit daripada periode yang sama tahun lalu (41 transaksi, US$2,2 miliar).

Kepala Riset Koneksi Capital Alfred Nainggolan mengatakan jika di Asean ada tren M&A mengarah pada sektor tertentu, belum tentu hal itu diikuti di Indonesia.  Apalagi jika bicara sektor energi dan mineral yang dalam beberapa tahun belakangan mengalami penurunan kinerja.

“Bicara infrastruktur juga demikian, dilihat apakah pasar sudah berani. Likuiditas untuk infrastruktur juga tidak terlalu banyak,” katanya.

Menurutnya, pelaku yang aktif melakukan M&A lebih condong pada sektor yang memang terus mengalami pertumbuhan kinerja, sehingga kekhawatiran meraup untung terkikis.

Tag : merger
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top