HASIL QUICK COUNT PILKADA DKI JAKARTA 2017: Ini Alasan Lembaga Survei Gelar Hitung Cepat

HASIL QUICK COUNT PILKADA DKI JAKARTA 2017: Ini Alasan Lembaga Survei Gelar Hitung Cepat
Anggara Pernando | 19 April 2017 10:48 WIB
Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (kiri) berjabat tangan dengan Djarot Saiful Hidayat (kedua kiri), sementara calon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kedua kanan) berpelukan dengan wakilnya Sandiaga Uno, seusai Debat Publik Pilkada DKI Jakarta putaran kedua di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (12/4). - JIBI/Nurul Hidayat

Kabar24.com, JAKARTA -- Sejumlah lembaga survei ramai-ramai mendaftarkan diri menyelenggarakan hitung cepat Pilkada DKI Jakarta putaran II. Berdasarkan pengumuman KPU hingga 6 Februari lalu terdapat sedikitnya 20 lembaga yang mendaftarkan diri.

PT Kio 95 atau Kelompok Diskusi dan Kajian Publik Indonesia (Kedai Kopi) salah satu lembaga survei yang ikut meramaikan hitung cepat menyatakan ini merupakan bagian dari stategi komunikasi lembaga survei.

Hendri Satrio Juru Bicara Kedia Kopi mengatakan setidaknya terdapat tiga alasan lembaga survei melakukan hitung cepat yakni, pertama, partisipasi dalam mengawal pesta demokrasi. Kedua, merupakan upaya dalam menggiatkan pendidikan politik bagi warga masyarakat. Serta, ketiga, memperkenalkan lembaganya lebih luas ke tengah masyarakat.

"[Quickcount Pilkada DKI Jakarta] Kami danai sendiri," kata Hendri di Jakarta, Rabu (19/4/2017).

Dia mengatakan hitung cepat yang dilakukan lembaganya akan mengambil sampel dari 350 tempat pemungutan suara yang tersebar di 172 kelurahan di 6 wilayah Jakarta.

Sementara itu dalam kesempatan terpisah pemilih Jakarta diharapkan menggunakan pendekatan visi, misi, program dan rekam jejak dibandingkan hasil survei yang gencar dirilis dalam menentukan pilihannya.

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini mengatakan pemilih tentu memiliki keterbatasan dalam memeriksa validitas hasil rilis sebuah survei. Pasalnya setiap lembaga mengklaim menggunakan metodologi yang teruji sacara statistik.

"Tidak usah terpengaruh dari berbagai lembaga survei, jadikan itu sebagai informasi tambahan. Kalau kredebilitas [lembaga survei] diragukan, kalau rekam jejaknya memang tidak kredibel, maka pemilih berhak untuk tidak menggunakan sebagai landasan," kata Titi.

Titi mengharapkan, jika pada akhirnya pemilih ingin mempercayai hasil survei maka harus diperhatikan kredibilitas lembaga yang melakukan survei. Kredibilitas ini akan terlihat melalui kedekatan hasil survei dengan hasil perhitungan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).

(Ikuti LIVE REPORT PILKADA DKI di sini: Hasil Quick Count, Siapa Menang, Ahok-Djarot atau Anies Sandi?)

Tag : Pilkada DKI 2017
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top