Iroha Tingkatkan Ekspor Sidat

PT Iroha Sidat Indonesia optimistis dapat mengatrol jumlah ekspor sidat tahun ini menjadi 350 ton dari realisasi tahun lalu yang mencapai 226 ton
Lingga Sukatma Wiangga | 17 April 2017 00:33 WIB
Sidat - Istimewa

Bisnis.com, SEMARANG — PT Iroha Sidat Indonesia optimistis dapat mengatrol jumlah ekspor sidat tahun ini menjadi 350 ton dari realisasi tahun lalu yang mencapai 226 ton.

Direktur PT Iroha Sidat Indonesia J. Soetanto mengatakan pihaknya memang menargetkan pertumbuhan setiap tahun, mengingat permintaan yang besar khususnya dari Jepang yang menyerap hingga sekitar 80% total ekspor.

“Sejak berdiri 2012 dan pertama ekspor pada 2013 kami terus tingkatkan ekspor karena permintaan cukup besar, sejak 2013 hingga Maret 2017 ekspor sudah 540 ton. Perusahaan kami patungan antara anak usaha JAPFA dengan perusahaan Jepang sehingga tidak sulit untuk kami menembus pasar Jepang,” katanya kepada Bisnis, akhir pecan lalu.

Sebagai gambaran, PT Iroha Sidat Indonesia adalah perusahaan patungan antara PT Suri Tani Pemuka sebagai anak usaha JAPFA Group yang menguasai 60% saham dengan Marubeni Corporation perusahaan asal Jepang yang menggengam saham 36% saham. Sisanya, sekitar 4% saham dimiliki PT Marubeni Indonesia.

Sidat atau  belut adalah kelompok ikan yang memiliki tubuh berbentuk menyerupai ular,  masuk dalam Ordo Anguilliformes.

Adapun pada periode Januari-Maret 2017 pihaknya telah merealisasikan ekspor sebesar 20% dari total target tahun ini. Sidat yang diekspor berbentuk sdai panggang beku yang sudah diberi saus yang diolah di pabrik yang dimiliki perusahaan di Banyuwangi.

Hasil gambar untuk sidat

Untuk meningkatkan ekspor setiap tahun, lanjut dia, pihaknya pun gencar meningkatkan hasil panen. Target panen pada tahun ini mencapai 550 ton dan akan bertambah menjadi 1.000 ton per tahun pada 2021.

Saat ini, pihaknya memiliki tambak di dua lokasi yang berbeda yaitu di Bomo, Kabupaten Banyuwangi dan di Karang Tekok, Kabupaten Situbondo. Soetanto menyebut pihaknya saat ini memiliki luas tambak mencapai 50 hektar. Menurutnya, jumlah dan luas tambak akan diperluas karena perusahaan masih memiliki land bank yang belum digarap.

“Untuk tambak ke depan akan ditambah karena kami masih punya lahan. Tapi jumlahnya tidak bisa kami katakan dan untuk lokasinya harus dekat dengan pabrik,” ujarnya.

Selain itu, untuk meningkatkan jumlah panen pihaknya pun terus memperbaharui teknologi cara budidaya agar dapat meningkatkan kualitas hidup hewan mirip belut tersebut. Pihaknya pun berupaya meningkatkan kualitas pakan agar pertumbuhan sidat lebih cepat.

Di sisi lain, dia mengatakan, saat ini di dunia belum ada cara pengembangbiakan sidat secara massal yang bisa dilakukan dengan rekayasa teknologi manusia. Oleh karena itu pihaknya sangat tergantung dari pasokan bibit sidat yang ditangkap nelayan dari ekosistem asli hewan tersebut di daerah selatan Jawa Barat, Banten, Malang, DIY, hingga Poso.

Untuk melestarikan sidat, pihaknya melakukan pelepasliaran setiap tahun sebagai tanggung jawab sosial perusahaan. Sidat yang dilepasliarkan yang memiliki berat sekitar 10 gram karena dianggap lebih mampu beradaptasi pada alam.

Dalam melakukan pelepasliaran pihaknnya selalu menggandeng Dinas Kelautan Perikanan dan universitas setempat. Di Kabupaten Sukabumi pihaknya bekerjasama dengan IPB Bogor. Di Malang selatan menggandeng Universitas Brawijaya dan di DIY bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada.

Selain melestarikan sidat, pelepasliaran pun berdampak pada konservasi mata air. Dia mencontohan, dari informasi Dinas Kelautan dan Perikanan Gunung Kidul mata air sering mengecil debitnya sebelum ada pelepasliaran. Saat ini mata air di kawasan yang dilakukan pelepasliaran tidak pernah mengecil debitnya ketika kemarau.

Tag : regional
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top