Industri Rokok Topang Penerimaan Pajak Jateng

Industri rokok diproyeksikan akan menopang penerimaan pajak di Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah I. Kontribusinya diperkirakan mencapai 26% dari target penerimaan tahun ini yang sebesar Rp31,6 triliun
Lingga Sukatma Wiangga | 22 Maret 2017 01:51 WIB
Buruh melakukan pelintingan sigaret kretek tangan (SKT) di sebuah pabrik rokok, di Kudus, Jawa Tengah, Rabu (31/8/2016). - Antara/Yusuf Nugroho

Bisnis.com, SEMARANG—Industri rokok diproyeksikan akan menopang penerimaan pajak di Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah I. Kontribusinya diperkirakan mencapai 26% dari target penerimaan tahun ini yang sebesar Rp31,6 triliun.

Menurut Irawan, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jateng I, peringkat kedua penopang penerimaan pajak di wilayah kerjanya akan datang dari industri makanan dan minuman termasuk jamu di dalamnya. Lalu, peringkat ketiga dengan kontribusi terbesar adalah industri tekstil.

Ketiganya terkategori dalam kelompok lapangan usaha (KLU) industri pengolahan. Mengutip data DJP Jateng I, dari awal Januari hingga 20 Maret lalu penerimaan pajak dari KLU industri pengolahan sudah mencapai Rp1,66 triliun atau sekitar 40,09% dari total raihan yang mencapai Rp4,14 triliun pada periode tersebut.

“Industri rokok penyumbang terbesar bukan hanya untuk Jateng I saja juga untuk Jateng II. Target penerimaan Jateng I dan II itu tahun ini mencapai Rp90 triliun dan terbesar akan disumbangkan industri rokok sedangkan untuk Jateng I, industri tersebut berkontribusi sekitar 26% dari target penerimaan Rp31,6 triliun,” katanya, saat ditemui di kantornya, Selasa (21/3/2017).

Terkait hal itu, menurutnya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah harus melakukan diversifikasi pendapatan daerah dengan menggenjot pembangunan sektor konstruksi maupun manufaktur. Tujuannya, agar dapat mengantisipasi jika ke depan industri rokok menghadapi kendala sehingga penerimaan pajak tidak terganggu.

Di sisi lain, pada periode tersebut penerimaan pajak dari KLU industri pengolahan pun mengalami kenaikan tertinggi dibandingkan dengan tujuh macam KLU lainnya. Penaikannya mencapai 64,64% dibandingkan dengan penerimaan pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,009 triliun.

Menurutnya, kenaikan signifikan pada KLU industri pengolahan tersebut tak lepas juga dari peran industri rokok. Pada awal tahun, lanjut dia, ada perubahan peraturan di industri rokok terkait cukai. Sehingga saat itu banyak pabrik rokok yang membayar cukai pada Desember 2015, akibatnya penerimaan awal 2016 relatif lebih rendah, sedangkan tahun ini sudah berjalan normal.

Selain itu, penaikan penerimaan pajak melalui KLU industri pengolahan didorong pula oleh bertumbuhnya jumlah wajib pajak di sektor tersebut. Dari Januari hingga 20 Maret 2017 jumlahnya mencapai 6.414 wajib pajak sedangkan pada kurun waktu yang sama tahun lalu hanya 5.758 wajib pajak, atau meningkat sekitar 11,4%.

Sedangkan KLU dengan kontribusi terbesar kedua adalah perdagangan besar dan eceran. Untuk tahun ini sumbangsihnya sudah mencapai Rp740,2 miliar atau berkontribusi sekitar 17,8% terhadap total penerimaan. Raihan dari KLU perdagangan besar dan eceran tersebut tumbuh hanya sekitar 4,82% dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp706,18 miliar.

Adapun KLU dengan kontribusi terbesar ketiga terhadap penerimaan pajak di DJP Jateng I adalah jasa keuangan dan asuransi dengan capaian sebesar Rp589,24 miliar. Perolehan itu tumbuh sekitar 17,21% dari torehan tahun lalu yang mencapai Rp502,74 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pajak

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top