Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cakupan Imunisasi Nasional Belum Merata

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K) menjelaskan mengenai capaian imunisasi di Tanah Air, yang dinilai masih minim.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 03 Mei 2016  |  14:49 WIB

Bisnis.com, JAKARTA- Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K) menjelaskan mengenai capaian imunisasi di Tanah Air, yang dinilai masih minim.

“Provinsi yang diklaim sebagai daerah target cakupan paling tinggi yakni DI Yogyakarta dengan cakupan 90%. Provinsi terendah target cakupan ini ada di Papua yang hanya sekitar 20%. Tahun depan, kita harakan Jabar menjadi provinsi tertinggi target capaian imunisasi," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Bisnis.com, Selasa (03/05)

Lebih lanjut Aman menjelaskan, “Untuk imunisasi, sejauh ini pihaknya terkendala beberapa masalah. Di antaranya, persoalan data yang dihasilkan sejumlah lembaga menunjukkan angka yang berbeda-beda. Selain itu, masalah keterlibatan masyarakat dalam edukasi imunisasi ini pun relatif minim. Semua usaha yang kita lakukan ini sesuai dengan rencana aksi Global Vaccine Action Plan. Komitmen Majelis Kesehatan Dunia ini menargetkan pada 2020 mendatang memastikan tak ada seorang pun di dunia ini yang tidak divaksinasi.

Ketua Satuan Tugas Imunisasi IDAI, Prof. dr. Cissy B. Kartasasmita, Msc.,Sp.A (K).,PhD, mengatakan, “Kematian balita karena penyakit sebenarnya dapat dicegah. Imunisasi diperlukan, sebagai tindakan pencegahan yang dapat menjadi salah satu pilihan dalam melakukan langkah pencegahan seperti halnya Imunisasi terhadap pneumonia seperti (DPT, HIB, Campak, dan Pneumokokus).
Data lembar fakta World Health Organization (WHO) tahun 2013 menunjukkan fakta yang sama, pneumonia atau radang paru akut dinyatakan menjadi penyebab kematian terhadap sekitar 1,2 juta anak setiap tahunnya, atau dapat dikatakan setiap jam-nya 230 anak meninggal karena pneumonia, jumlah ini adalah 18% dari jumlah kematian anak Balita di seluruh dunia. Angka ini melebihi angka kematian yang disebabkan oleh AIDS, Malaria dan Tuberkulosis.”

Lebih lanjut Cissy B. Kartasasmita menjelaskan, Vaksin pneumokokus saat ini memang belum terlalu familiar. Padahal vaksin ini sangat penting khususnya bagi anak berusia di bawah dua tahun. Penyakit akibat infeksi pneumokokus merupakan masalah kesehatan masyarakat dibanyak negara di dunia. Streptococcus pneumoniae ini merupakan penyebab utama penyakit pneumonia, invasive pneumococcal disease (IPD) termasuk sepsis, meningitis serta pneumonia, dan ototis media akut.

"Hasil penelitian mengenai IPD dan efikasi vaksin menunjukkan terjadinya 814.000 kematian akibat pneumokokus setiap tahun pada balita di negara sedang berkembang, terutama di Asia dan Afrika. Ntuk itu, pencegahan penyakit melalui imunisasi perlu terus ditingkatkan untuk mengurangi tingkat kejadian (Morbiditas) dan kematian (Mortalitas) akibat penyakit, salah satunya penyakit pneumonia. Lebih lanjut Cissy mengatakan.”

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Jabar Netty Prasetiyani Heryawan menegaskan, “imunisasi ini merupakan hak dasar anak yang harus dipenuhi. Ini bermanfaat untuk proses tumbuh-kembang anak. Selain itu, imunisasi ini pun diatur dalam UU Perlindungan Anak.

Secara umum, imunisasi ini mutlak harus dilakukan karena sebagai salah satu syarat keunggulan bangsa. Makanya, kita terus melakukan peningkatan kesadaran masyarakat untuk mengikuti imunisasi. Lebih lanjut Netty menambahkan, “Dikarenakan imunisasi ini disahkan negara menjadi hak, semestinya tidak ada kesenjangan imunisasi. Sejauh ini, persoalan akses, penolakan sebagian masyarakat, minimnya aspek legalitas, dan infrastruktur di daerah diakui sebagai faktor kesenjangan imunisasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

imunisasi
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top