Kebakaran Hutan: Jumlah Hot Spot Melonjak

Jumlah titik panas atau hotspot, yang menjadi indikasi kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Riau melonjak dari beberapa hari sebelumnya nihil menjadi 116 titik pada Jumat (18/9/2015).
Newswire | 19 September 2015 03:33 WIB
Kebakaran hutan dan lahan di Riau - Antara

Kabar24.com, PEKANBARU - Jumlah titik panas atau hotspot, yang menjadi indikasi kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Riau melonjak dari beberapa hari sebelumnya nihil menjadi 116 titik pada Jumat (18/9/2015).

Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menunjukkan Riau menjadi daerah tertinggi ketiga dalam jumlah titik panas di Sumatra yang mencapai 471 titik.

Hasil pencitraan satelit Terra dan Aqua menyatakan Provinsi Jambi paling banyak terdapat titik panas, dengan jumlah 166 titik, diikuti Sumtera Selatan (148 titik panas), Sumatra Barat (25 titik panas, Bengkulu (10 titik panas), dan Sumatra Utara (empat titik panas).

Yang dipastikan adalah titik api kebakaran di Riau karena tingkat keakuratan di atas 70 persen ada berjumlah 82 titik panas. Penyebarannya paling banyak di Indragiri Hulu 34 titik, Pelalawan 32 titik panas, Kampar 10 titik, Indragiri Hilir empat, dan Kuantan Singingi dua titik panas.

Kondisi itu membuat polusi asap masih pekat menyelimuti sebagian besar wilayah Riau. Meski begitu, peluang hujan dengan intensitas ringan hingga sedang tidak merata disertai petir dan angin kencang pada malam atau dini hari terjadi di Wilayah Riau bagian Barat, Tengah, Utara dan Pesisir Timur.

Sementara itu, jarak pandang akibat asap terpantau pada pukul 18.00 WIB di Kota Pekanbaru hanya 500 meter. Kondisi asap parah juga terjadi di Rengat Kabupaten Indragiri Hulu sehingga jarak pandang hanya 800 meter, Kabupaten Pelalawan 300 meter, sedangkan jarak pandang di Kota Dumai relatif lebih panjang yakni 2.000 meter meskipun terselimuti asap.

Riau, sejak 14 September 2015, berada dalam status darurat pencemaran udara akibat kebakaran lahan dan hutan. Sekitar 1.096 prajurit TNI sudah dikerahkan dari Jakarta untuk membantu proses pemadaman kebakaran, namun belum menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Riau Edward Sanger menyatakan operasi helikopter bom air dengan menggunakan tiga unit helikopter pada Jumat terkendala kabut asap pekat yang mengakibatkan jarak pandang sangat terbatas.

"Menjelang petang sekitar pukul 15.00 WIB baru kami bisa terbangkan satu persatu setelah jarak pandang membaik menjadi 1.200 meter," kata Sanger.

Helikopter Camov dikerahkan untuk melakukan pengeboman air selama tiga jam di Kecamatan Kerumutan Pelalawan. Selanjutnya helikopter Mil Mi-17 diterbangkan mengebom air di lahan bekas terbakar di Air Hitam Pekanbaru dan Rimbo Panjang Kampar.

Kemudian, helikopter Sikorsky ke Indragiri Hulu namun tidak bisa optimal karena jarak pandang sangat buruk.

Sumber : Antara

Tag : kebakaran hutan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top