Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BERAS SINTETIS: Disinyalir Beredar di Yogyakarta

Warga Dusun Duwet Karangwuni Kecamatan Rongkop Gunungkidul, Yogyakarta, mencurigai ada peredaran beras plastik atau sintetis yang sudah masuk di wilayahnya.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 23 Mei 2015  |  13:44 WIB
BERAS SINTETIS: Disinyalir Beredar di Yogyakarta
Pedagang beras - Antara
Bagikan

Kabar24.com, YOGYAKARTA-- Warga Dusun Duwet Karangwuni Kecamatan Rongkop Gunungkidul, Yogyakarta, mencurigai ada peredaran beras plastik atau sintetis yang sudah masuk di wilayahnya.

Seorang warga, Sunarmo, menuturkan, kecurigaan itu berawal ketika dia dan istrinya, Murdiyah, mulai memasak beras yang mereka beli dari dusun tetangga awal Mei lalu. Sunarmo membeli 10 kilogram beras jenis C4 Super Rojo Lele yang pada kemasannya bertulis asal produksi Pati-Jawa Tengah.

"Niat saya hanya mencampur dengan beras merah lokal hasil panen, tapi saat dimasak hasilnya berbeda, nggak seperti beras umumnya," ujar ayah tiga anak itu Jumat (22/5/2015).

 Namun, saat memasak beras itu dalam magic jar, beras itu seolah tak tanak seperti nasi normal seperti umumnya. Melainkan hanya menyisakan kerak, dan banyak menempel di dinding magic jar. Beras pun juga dirasa cukup licin saat dicuci.

"Kemudian saya inisiatif coba membakar beras itu, hasilnya seperti menggumpal hitam seperti meleleh, tak menjadi abu seperti beras normal," ujar Sunarmo yang dengan istrinya sudah terlanjur memasak 5 kilogram beras yang mereka beli dengan harga Rp9.600 perkilogramnya itu.

Sunarmo mengaku, sudah memakan beras diduga sintetis itu tiap hari dengan istri, tapi dia tak merasakan ada gangguan penceranaan berarti.

"Hanya buang air besar beberapa hari terakhir memang agak susah, tapi istri baik-baik saja tak ada keluhan," ujarnya.

Sunarmo mengaku, baru sekali ini membeli beras dengan kualitas super, meskipun dia sendiri petani dengan fokus menanam beras merah khas Gunungkidul.

Sunarmo baru tergerak mengadukan pada Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi setempat setelah melihat gencarnya pemberitaan televisi soal beras sintetis.

Kepala Seksi Distribusi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan ESDM Kabupaten Gunungkidul, Supriyadi yang mengecek langsung laporan warga itu mengaku ragu, jika beras diduga plastik itu benar.

"Memang harus uji laboratorium untuk tahu pasti, tapi dari ciri fisiknya saja kami simpulkan ini beras normal, warga mungkin yang terlalu khawatir akibat isu itu," ujar Supriyadi.

Tes

Sejumlah test fisik dan pengamatan dilakukan Disperindagkop Gunungkidul. Pertama dengan mengambil bulir-bulir beras diduga sintetis dan coba menseterikanya beberapa saat.

"Tak ada beras menempel atau leleh saat diseterika, hanya menguning," ujar Supriyadi.

Jika beras meleleh dan menggumpal hitam saat dibakar warga yang curiga, Supriyadi pun menyatakan cara uji pembakaran beras oleh warga tak bisa jadi jaminan.

"Karena warga bakarnya pakai batok kelapa, ya jelas menghitam dan menggumpal, uji bakar di lab pakai pipet," ujarnya.

Kemudian, dengan uji air. Beras plastik jika ditempatkan di air maka dari mengapung lama kelamaan akan tenggelam.

"Kelihatan hasil panen tak sempurna dan campuran, jadi sementara kami simpulkan bukan beras sintetis," ujar Supriyadi.

Supriyadi pun sudah mengecek pada kesehatan warga dan tak menemukan gejala mengkhawatirkan usai mengkonsumsi.

"Tapi demi kepastiannya kami tetap uji lab pekan deppan, ini masih kesimpulan awal," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

beras sintetis

Sumber : Tempo

Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top