Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BNPT Libatkan Ulama Sulsel Antisipasi ISIS

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melibatkan ulama untuk mengantisipasi penyebaran paham radikal ISIS di Sulsel, mengingat semakin banyak warga negara Indonesia yang ke Suriah untuk bergabung dengan organisasi tersebut.
Wiwiek Dwi Endah
Wiwiek Dwi Endah - Bisnis.com 14 April 2015  |  15:10 WIB
Petugas menggiring seorang tersangka (tengah) pemilik atribut kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (Islamic State of Iraq Syria/ISIS) saat ekspos di Mapolresta Jambi, Selasa (24/3).  - Antara
Petugas menggiring seorang tersangka (tengah) pemilik atribut kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (Islamic State of Iraq Syria/ISIS) saat ekspos di Mapolresta Jambi, Selasa (24/3). - Antara

Bisnis.com, MAKASSAR - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melibatkan ulama untuk mengantisipasi penyebaran paham radikal ISIS di Sulsel, mengingat semakin banyak warga negara Indonesia yang ke Suriah untuk bergabung dengan organisasi tersebut.

Direktur Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol Rudi Sufahriadi mengatakan pihaknya sementara mengkaji hukum apa yang bisa diterapkan secara nasional, untuk mengantisipasi banyaknya orang Indonesia yang berangkat ke Suriah dan Iran.

“Selama ini, kami telah melakukan upaya preventif dengan membina mereka yang sudah kembali ke Indonesia," kata Rudi di sela-sela Sosialisasi Sinergitas Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme di Sulsel, Selasa (14/4/2015).

Menurutnya, upaya yang paling baik adalah mencegah agar mereka tidak berangkat ke dua negara tersebut. Yang berbahaya katanya, kalau mereka yang kembali membawa ajaran yang ada di sana ke wilayah ini, lalu keahlian mereka baik dalam berperang hingga membuat bom, digunakan untuk hal-hal yang tidak baik.

Dia mengatakan ada dua kemungkinan mengapa banyak yang berbondong-bondong ke Suriah dan Iran. Pertama, motif ekonomi karena mereka dijanjikan gaji yang cukup besar. Kedua, karena mereka didoktrin untuk berjihad dan mendirikan negara Islam.

"Anggota ISIS sudah banyak, ada yang dari Pulau Sulawesi, Jawa, dan Kalimantan. Karena itu, semua daerah kami awasi," ujarnya.

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang juga mantan Ketua Nahdlatul Ulama (NU), Hasyim Muzadi mengatakan di dunia ini ada perang terhadap terorisme.

"Tetapi, negara luar yang berperang terhadap terorisme memiliki banyak agenda lain, tidak sekadar masalah terorisme. Sedangkan di Indonesia, kalau menyelesaikan masalah terorisme memang hanya untuk mengatasi terorisme, tidak ada agenda lain," kata Hasyim.

Untuk memberantas terorisme dan radikalisme, dia mengaku selama ini pihak-pihak berkepentingan belum mengefektifkan peran para ulama. Padahal, hanya para ulama yang bisa mengurai mainset pemikiran agama yang keras itu.

Intinya, kata dia, bagaimana penguatan pemikiran Islam yang moderat itu dikumandangkan terus di segala penjuru. "Sekarang kan kalah ramai dengan yang radikal," ucapnya.

Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menilai bahwa masalah radikalisme dan terorisme adalah sesuatu yang selalu harus diwaspadai. "Semua pihak tidak boleh lengah untuk radikalisme dan terorisme karena bisa berujung pada sesuatu yang tidak mengenakkan, menimbulkan ketakutan dan kecemasan," tegas Syahrul.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ISIS bnpt
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top