Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wartawan Jepang yang Disandera ISIS Ternyata Ingin Selamatkan Sahabatnya

Wartawan Jepang yang Disandera ISIS Ternyata Ingin Selamatkan Sahabatnya
Redaksi
Redaksi - Bisnis.com 22 Januari 2015  |  20:45 WIB
Seorang pria bertopeng membawa pisau di tengah dua pria yang berlutut dalam gambar dari potongan video yang dirilis oleh kelompok militan Negara Islam, Selasa (20/1). Kelompok militan Negara Islam merilis video dalam jaringan Selasa kemarin, yang menunjukkan dua warga negara Jepang yang ditawan dan diancam akan dibunuh kecuali ditebus dengan uang sebesar 200 juta dolar.  - REUTERS
Seorang pria bertopeng membawa pisau di tengah dua pria yang berlutut dalam gambar dari potongan video yang dirilis oleh kelompok militan Negara Islam, Selasa (20/1). Kelompok militan Negara Islam merilis video dalam jaringan Selasa kemarin, yang menunjukkan dua warga negara Jepang yang ditawan dan diancam akan dibunuh kecuali ditebus dengan uang sebesar 200 juta dolar. - REUTERS

Kabar24.com, JAKARTA - Kenji Goto, jurnalis perang asal Jepang yang disandera oleh Negara Islam (IS), dijadikan sandera oleh kelompok bersenjata pimpinan Abu Bakr al-Baghdadi setelah mencoba menyelamatkan sahabatnya Haruna Yukawa.

Keduanya ditawan dan dijadikan alat untuk meminta tebusan sebesar 200 juta dolar AS kepada pemerintah Jepang.

Yukawa ditangkap oleh IS di luar kota Aleppo, Suriah, pada Agustus, sementara Goto dinyatakan hilang setelah pada Oktober berangkat ke Suriah untuk menyelamatkan temannya tersebut.

Menurut kerabat dan data pribadinya, Yukawa, yang bercita-cita ingin menjadi kontraktor militer, disinyalir pergi ke Suriah untuk menenangkan diri setelah ditimpa permasalahan berat seperti kebangkrutan, istri meninggal karena kanker dan percobaan bunuh diri.

Pada awalnya Pemerintah Jepang melalui unit khusus Kementerian Luar Negeri hanya mencari keberadaan Yukawa sejak Agustus, ketika dia  dinyatakan menghilang, kata anggota unit tersebut kepada Reuters.

Raibnya Goto tidak pernah diketahui hingga sebuah tampilan video pada Selasa memperlihatkan dia dan Yukawa, berbaju jingga, berlutut di samping anggota IS bertopeng dan memegang pisau.

Yukawa pertama kali bertemu dengan Goto di Suriah pada April. Yukawa meminta Goto membawanya ke Irak untuk mengetahui bagaimana bekerja dalam daerah konflik. Mereka lalu pergi bersama pada Juni.

Yukawa lalu kembali lagi ke Suriah pada Juli sendirian.

"Nasibnya sangat malang dan dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Dia membutuhkan pertolongan seseorang yang berpengalaman," ujar Goto (47 tahun) kepada Reuters di Tokyo, Agustus.

Peristiwa penculikan Yukawa pada bulan tersebut kerap menghantui Goto dan dia memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk menyelamatkan pria yang umurnya beberapa tahun lebih muda darinya tersebut.

"Saya harus pergi ke sana setidaknya sekali dan menjumpai orang-orang dalam saya dan menanyakan mereka situasi yang sebenarnya. Saya akan berbicara dengan mereka secara langsung dan ini penting," kata Goto.

Dia berencana memanfaatkan jasa "orang-orang dalam" tersebut, penduduk setempat yang bekerja lepas untuk koresponden luar negeri, untuk mengatur pertemuan dengan penculik dan membantunya sebagai penerjemah.

Goto mulai bekerja sebagai koresponden tetap berita perang sejak tahun 1996 dan berhasil membangun reputasi sebagai orang yang berhati-hati dan dapat diandalkan untuk media-media Jepang, termasuk NHK.

"Dia mengerti apa yang harus dilakukan dan sangat waspada," kata Naomi Toyoda, yang pernah meliput di Yordania bersama Goto pada tahun 1990-an.

Goto, yang memeluk agama Kristen pada tahun 1997, juga sering menyangkutkan kepercayaan dengan pekerjaannya.

"Saya telah melihat tempat-tempat mengerikan yang membahayakan nyawa, namun saya tahu Tuhan akan selalu menyelamatkan saya," tutur dia pada Mei dalam sebuah artikel di Jepang, Christian Today.

Pada Oktober, Goto memiliki anak kedua setelah putri pertama hasil pernikahan dengan sebelumnya, kata kerabat Goto.

Di bulan yang sama, dia berencana untuk meninggalkan Suriah dan mengunggah beberapa video pendek di halaman Twitternya.

Pada 22 Oktober, dia mengirimkan surat elektronik kepada kerabatnya yang berisi bahwa dia akan pulang ke Jepang pada akhir bulan.

Goto juga sempat mengatakan kepada rekan bisnis aplikasi berita daringnya ("online"), Toshi Maeda, bahwa dia memperkirakan  bisa datang ke wilayah kekuasaan IS karena kebangsaan Jepangnya.

"Dia berkata sebagai wartawan Jepang, dia berharap diperlakukan berbeda dengan jurnalis Amerika Serikat atau Inggris," ujar Toshi Maeda, mengulang pembicaraannya dengan Goto sebelum jurnalis tersebut berangkat ke Suriah.

"Jepang tidak ikut dalam operasi pengeboman dan hanya terlibat dalam bantuan kemanusiaan. Karena itu, Goto pikir dia bisa bekerjasama dengan IS," kata dia.

Seorang teman Goto yang lain mengatakan bahwa pria tersebut berangkat dari Tokyo menuju Istanbul, Turki, yang dilanjutkan dengan perjalanan ke Suriah. Dia mengirimkan pesan pada 25 Oktober bahwa dia berhasil menyeberangi perbatasan dengan aman.

"Apapun yang akan terjadi, ini adalah tanggung jawab saya," tutur Goto dalam sebuah video yang direkam sesaat sebelum dia berangkat menuju Raqqa, ibu kota Negara Islam.

Itu adalah terakhir kali dia terlihat sebelum adanya video IS pada minggu ini.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ISIS

Sumber : Antara

Editor : Andhika Anggoro Wening

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top