SUKU BUNGA THE FED: Normalisasi Moneter Ditempuh Perlahan

Satu lagi anggota Dewan Gubernur The Federal Reserve meminta rekan-rekannya di Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) untuk tidak tergesa-gesa mengeksekusi normalisasi.
Arys Aditya | 07 Januari 2015 03:40 WIB
The Federal Reserve - Reuters

Kabar24.com, WASHINGTON - Satu lagi anggota Dewan Gubernur The Federal Reserve meminta rekan-rekannya di Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) untuk tidak tergesa-gesa mengeksekusi normalisasi.

Pasalnya, perekonomian Paman Sam masih membutuhkan kebijakan easy money dan rentan terpukul pengetatan bank sentral. Sekalipun situasi domestik telah jauh lebih baik, ungkap Williams, sampai awal 2015 ini perekonomian AS masih memerlukan akomodasi moneter longgar.

Tujuannya adalah demi menjaga tren positif sekaligus terus menggenjot tingkat penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan upah. "Saya tidak melihat ada alasan bagi kami [FOMC] untuk terburu-buru [menaikkan suku bunga acuan]," ujar Presiden the Fed San Francisco John Williams, Selasa (6/1/2015).

Williams yang mewakili kubu centris atau swing mengungkapkan waktu yang pas untuk mulai memikirkan pengetatan moneter adalah pada paruh kedua 2015.

Williams, salah seorang pemilik hak suara pada FOMC 2015, berharap eksekusi kebijakan moneter ketat ditempuh secara perlahan.  Sehingga, lanjutnya, tidak menimbulkan guncangan seiring dengan arah kebijakan yang berbeda dengan Bank of Japan dan European Central Bank (ECB).

"Ada potensi turbulensi di pasar finansial akibat divergensi kebijakan moneter. Saya sendiri menilai pengetatan harus ditempuh secara gradual setelah beberapa tahun suku bunga acuan diangkat," ungkapnya.

Pada perkembangan lain, ekonomi AS tumbuh 5% secara year-on-year (yoy) pada kuartal III/2014 atau tertinggi dalam 10 tahun.  Namun, level inflasi masih berkutat di level 1,2% atau jauh dari target the Fed sebesar 2%, target yang tidak pernah dicapai sejak April 2012.

Williams sendiri meyakini faktor inflasi rendah bukan merupakan dampak dari merosotnya harga minyak mentah dunia.  Dia menilai pertumbuhan upah dan tingkat bunga riil yang masih bergerak di kisaran 0% adalah bukti kenapa FOMC harus lebih menahan diri untuk melancarkan penaikan suku bunga acuan.

Summers menjelaskan penaikan hasyafil pertama suku bunga akan menjadi momentum yang berpotensi membahayakan perekonomian. Pasalnya, jika fed funds rate dinaikkan terlalu terburu-buru, ekonomi domestik kemungkinan akan terpukul dan jatuh kembali ke posisi krisis.

Sumber : Bloomberg

Tag : krisis finansial
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top