Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kemarau Picu Peningkatan Hama Tanaman Pertanian di Sumut

Musim kemarau dinilai dapat memicu peningkatan organisme pengganggu tanaman (OPT) pertanian di Sumatra Utara.
Febriany Dian Aritya Putri
Febriany Dian Aritya Putri - Bisnis.com 16 Juni 2014  |  16:05 WIB
Kemarau Picu Peningkatan Hama Tanaman Pertanian di Sumut
Ilustrasi - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, MEDAN--Musim kemarau dinilai dapat memicu peningkatan organisme pengganggu tanaman (OPT) pertanian di Sumatra Utara. Selain hama wereng, berbagai OPT lainnya seperti tikus, kepinding tanah, dan penggerek batang juga diproyeksi menjadi penganggu utama.

Pokja Pangan UPT PTPH Dinas Pertanian Sumatra Utara Bukhari memaparkan, dalam kondisi kemarau dengan curah hujan yang cukup tinggi, OPT yang harus diwaspadai adalah hama wereng cokelat. Wereng coklat terutama akan menyerang padi.

Bukhari menambahkan, pada rerata petani di Sumut telah memasuki masa pasca panen sehingga belum ada pengolahan tanah. Pihaknya juga belum menemukan populasi wereng coklat.

Kendati demikian, berdasarkan masa tanam yang lalu, Distan Sumut menemukan banyak populasi wereng cokelat di tanaman padi. Tahun lalu, Bukhari mencatat temuan 35,5 hektare populasi. Namun, aibat antisipasi dini, tidak ada lahan padi yang puso.

"Kalau tidak preventif, wereng coklat cepat sekali berkembang dan bisa menurunkan produksi. Cuaca seperti ini sangat mendukung perkembangan hama," ujar Bukhari, Senin (16/6/2014).

Adapun, lanjut Bukhari, penggunaan pupuk selain organik justru semain memicu munculnya hama. Distan Sumut menganjurkan penggunaan pupuk organis dengan porsi berimbang. Sementara itu, berdasarkan temuan di lapangan, masih banyak petani menggunakan pupuk kimia, bahkan pupuk palsu.

"Meski kemarau, pupuk organik masih bisa mengikat organisme pengurai di dalam tanah. Penggunaan pupuk urea yang berlebihan juga memicu hama. Petani kita sekarang banyak yang ingin instan," tutur Bukhari.

Tak hanya itu, kondisi ini diperparah dengan pola tanam petani di Sumut yang belum serentak. Bukhari menjelaskan, dengan pola tanam seperti itu akan memicu hama lain seperti penggerek barang, tikus, kepinding tanah dan siput murbei.

Distan Sumut sepanjang tahun ini memproyeksikan serangan OPT pada tanaman padi didominasi oleh BLB/kresek 2.467 hektare, siput murbei 1.809 hektare, dan tikus 1.409 hektare. Untuk jagung, tikus akan menyerang 228,59 hektare, penggerek batang 171,28 hektare, dan penyakit bulai 120,21 hektare.

Adapun, untuk kedelai, serangan OPT akan didominasi ulat grayak 98,9 hektare, penggerek batag 90,7 hektare, dan penggulung daun 68,4 hektare.

"Untuk mengantisipasi serangan OPT, kami meminta pengawasan petugas di lapangan diperketat. Mereka harus melakukan antisipasi serangan spot stop, seperti dengan pestisida dan lampu penangkap hama," pungkas Bukhari.

Sebelumnya, Kasubbag Program Distan Sumut Lusiantini memaparkan, sepanjang kuartal I/2014, akibat kemarau, produksi komoditas pangan menurun.

Secara year on year, produksi jagung turun 7,27% menjadi 350.100 ton pada kuartal I/2014 dari 377.541 ton pada periode yang sama tahun lalu.

Kendati demikian, produksi padi Sumut masih meningkat tipis 5,94% YoY menjadi 1.429.492 ton pada kuartal I/2014 dibandingkan dengan 1.349.354 ton pada tahun lalu. Adapun, peningkatan tersebut akibat pergeseran jadwal tanam dan panen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemarau
Editor :
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top