Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penaikan TDL, Obyek Wisata di Batu Bakal Terimbas

Penaikan tarif dasar listrik (TDL) pada 1 Mei 2014 mencemaskan pengelola obyek wisata di Kota Batu, Jawa Timur, karena akan memicu membengkaknya biaya operasional
M. Sofi’I
M. Sofi’I - Bisnis.com 27 April 2014  |  20:56 WIB
 Gunung Bromo
Gunung Bromo

Bisnis.com, BATU- Penaikan tarif dasar listrik (TDL) pada 1 Mei 2014 mencemaskan pengelola obyek wisata di Kota Batu, Jawa Timur, karena akan memicu membengkaknya biaya operasional.

Operasional Manager Museum Angkut dan Movie Star Kota Batu, Titik S. Ariyanto, mengatakan penaikan TDL tersebut membawa dampak psikologis yang besar. Tidak hanya bagi pengelola obyek wisata, namun wisatawan.

“Di satu sisi, sebagai obyek wisata yang baru beroperasi, tentu sulit bagi kami untuk langsung menaikkan tarif. Kalau tarif sampai naik, wisatawan yang merupakan end user pasti akan mengeluhkan mahalnya tarif,” kata Titik di Batu, Minggu (27/4/2014).

Karena itu, meski biaya produksi akan membengkak karena listrik merupakan elemen penting dari bisnis wisata, pihaknya akan berusaha keras untuk tidak menaikkan tarif guna mengimbangi TDL.

Tiket masuk ke Museum Angkut dipastikan akan tetap di angka Rp60.000 untuk weekday dan Rp75.000 untuk weekend. Langkah tidak menaikkan tarif sengaja diambil karena alasan Museum Angku sebagai wahana wisata yang baru berdiri di Kota Batu.

“Kami sedang dalam posisi mengenalkan Museum Angkut kepada masyarakat luas. Sehingga penaikan tiket belum waktunya,” jelas dia.

Namun begitu, jika biaya operasional yang harus ditanggung oleh pengelola wisata sedemikian besar dan sudah dianggap tidak bisa ditolelir lagi, maka batas psikologis penaikan tiket masuk guna mengimbangi TDL tidak lebih dari 20%.

Yang jelas pihaknya menegaskan jika sepanjang 2014 besar kemungkinan Museum Angkut belum mengambil opsi untuk menaikkan tarif masuk.

Ketua PHRI Kota Batu, Uddy Syaifudin, mengatakan penaikan TDL juga akan membawa dampak psikologis yang cukup besar bagi pelaku industri perhotelan di Kota Batu.

“Sebagaimana obyek wisata, listrik juga merupakan elemen terpenting dari operasional hotel. Tentunya hal ini akan membawa konsekuensi terhadap naiknya biaya operasional,” ujarnya.

Kendati kalaupun tarif kamar naik akan menjadi beban tamu, namun hal itu bukanlah opsi yang baik di tengah kondisi yang berkembang saat ini dimana hotel hanya penuh kalau hari libur maupun weekend.

Karena itu PHRI menunda kenaikan tarif kamar dengan melakukan penghematan dinilai sebagai solusi yang ideal daripada harus melakukan penyesuaian harga kamar.

“Industri perhotelan dan wisata, memang juga tengah harap-harap cemas menunggu pemberlakukan PP No.12/2014 yang akan membuat tarif masuk ke Bromo melonjak tajam. Sementara industri pariwisata di Jawa Timur sangat bergantung pada tingkat kunjungan wisatawan baik local maupun mancanegara ke Bromo,” tambah dia.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jatim bromo gunung bromo
Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top