Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

OECD: G7 Pimpin Ekonomi Dunia

Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menyatakan pemulihan ekonomi tengah berlangsung menyusul kondisi keuangan yang mendukung dan mulai menjauh dari kebijakan pengetatan anggaran.
/Ilustrasi
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA— Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menyatakan pemulihan ekonomi tengah berlangsung menyusul kondisi keuangan yang mendukung dan mulai menjauh dari kebijakan pengetatan anggaran.

Secara menyeluruh, kinerja ekonomi dunia akan ditopang oleh kondisi ekonomi yang positif di G7 yang terdiri dari Amerika Serikat, Perancis, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, dan Inggris.

Laporan OECD yang dirilis pada Selasa (11/3) menyebutkan ekonomi G7 akan terakselerasi di angka 2,2 pada kuartal I/2014 dan 2,0 pada kuartal selanjutnya.

Berdasarkan proyeksi OECD, Inggris akan tumbuh lebih cepat dibandingkan negara G7 lainnya yaitu 3,3% pada kuartal I/2014 dan kuartal II/2014.

Namun, pemulihan ekonomi di G7 sedikit terbebani dengan perlambatan ekonomi yang tengah dialami oleh Jepang.

Kinerja ekspor yang buruk dan melambatnya konsumsi domestik menjadi pemicu utama perlambatan, belum lagi rencana pemerintah untuk menaikkan pajak penjualan pada 2015.

Selain itu, pemulihan ekonomi mulai terlihat di Amerika Serikat dan beberapa negara di kawasan Euro. Tetapi angka pengangguran yang cukup besar masih menjadi tantangan utama terhadap pemulihan ekonomi di Zoan Euro.

Memburuknya cuaca di Amerika Utara dan antisipasi kenaikan pajak penjualan pada April mendatang di Jepang juga menyebabkan laju pertumbuhan ekonomi tidak merata.

Produk domestik bruto (PDB) Jepang diproyeksikan menguat pada kuartal pertama tahun ini sekitar 4,8% sedangkan kuartal selanjutnya justru mencatatkan penurunan menjadi -2,9%.

Kontras dengan negara maju, laporan itu mengemukakan aktifitas ekonomi negara berkembang belum menunjukkan tanda-tanda penguatan.

Untuk negara berkembang sendiri, beberapa negara memperlihatkan laju pertumbuhan ekonomi cukup signifikan, termasuk China.

Namun, negara lainnya justru belum mampu menunjukkan kinerja ekonomi positif. Ketatnya kondisi keuangan di negara berkembang menjadi salah satu pemicu perlambatan ekonomi di negara berkembang.

 “Pemulihan ekonomi secara bertahap sedang terjadi di negara maju, meskipun sempat terhalang beberapa faktor yang berisiko menghalangi penguatan yang ada. Perlambatan ekonomi di negara berkembang juga memiliki risiko memperlambat pemulihan ekonomi dunia,”ungkap Rintaro Tamaki, Kepala Ekonom OECD di Paris, Selasa (11/3/2014).

Berdasarkan data yang dikeluarkan OECD, negara-negara maju yang berada di kawasan Euro dan Asia masih mengalami sejumlah tantangan. “Pemulihan ekonomi Zona Euro masih rapuh sedangkan perlambatan Jepang dan China juga masih terjadi,”tambahnya.

Untuk itu, dirinya berpendapat negara maju dan negara berkembang harus menyadari pentingnya reformasi struktural untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan pekerjaan.

OECD memproyeksi ekonomi Amerika Serikat mengalami ekspansi 3,1% pada kuartal II/2014, setelah kinera ekonomi melambat pada kuartal I/2014 akibat memburuknya cuaca.

Kanada juga mengalami permasalahan serupa yaitu badai salju sehingga mempengaruhi kinerja ekonomi pada kuartal pertama tahun ini. Tetapi, pada kuartal kedua, Kanada diprediksi meningkat menjadi 2,4%. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Rustam Agus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper