Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Populasi Gajah Sumatra Kian Terancam

Perluasan perkebunan kelapa sawit di wilayah Sumatra mengancam populasi Gajah Sumatra (Elephas maximus) sehingga sebagian besar kasus kematian gajah diakibatkan oleh konflik dengan petani perkebunan.
Sukirno
Sukirno - Bisnis.com 11 Desember 2013  |  16:03 WIB
Populasi Gajah Sumatra Kian Terancam

Bisnis.com, MEDAN -Populasi gajah Sumatra (Elephas maximus) kian terancam. Pasalnya, angka kematian gajah di kawasan tersebut kini terus terjadi.

Sepanjang tahun lalu, gajah Sumatra yang ditemukan mati sebanyak 30-40 ekor. Khusus di Raiu terjadi 12 kasus kematian gajah yang dicatat WWF-Indonesia.

Data WWF-Indonesia menunjukkan bahwa sudah lebih dari 100 individu gajah Sumatra ditemukan mati di wilayah Riau sejak 2004.

Di Aceh sedikitnya terdapat 14 kematian gajah yang terdata pada 2012 mencakup Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Barat, Aceh Timur, Aceh Utara, dan Bireuen.

Kajian WWF-Indonesia menunjukkan bahwa populasi gajah Sumatra kian hari makin memprihatinkan. Dalam 25 tahun, gajah Sumatra telah kehilangan sekitar 70% habitatnya, serta populasinya menyusut hingga lebih dari separuh.

Estimasi populasi pada 2007 adalah antara 2.400-2.800 individu, namun kini diperkirakan telah menurun jauh dari angka tersebut karena habitatnya terus menyusut dan pembunuhan yang terus terjadi.

Koordinator Konservasi Gajah dan Harimau WWF-Indonesia,Sunarto menjelaskan upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi kematian gajah Sumatra dinilai belum memadai. Pengamanan habitat gajah dilakukan dengan adanya kawasan konservasi belum cukup melindungi gajah yang kian langka ini.

Dia menilai masih banyak gajah Sumatra yang berada di luar kawasan konservasi, misalnya saja di Bukit 30 perbatasan Riau dan Jambi, populasi lebih banyak diluar kawasan hutan lindung.

"Populasi gajah itu sangat terancam. Kawasan seperti itu yang lebih banyak dikonversi menjadi lahan perkebunan," jelasnya.

Sudiono, Mahot atau perawat gajah di kawasan konservasi Tangkahan, Langkat, mengatakan populasi gajah di Sumatra Utara terus menipis. Setidaknya masih ada di kawasan Tangkahan dan Kabupaten Karo.

Menurut dia, ancaman terbesar populasi gajah Sumatra adalah eksploitasi hutan, pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan perburuan liar.

Forum Komunikasi Mahot mencatat populasi gajah Sumatra diperkirakan hanya mencapai 1.000-1.500 ekor. Awalnya, populasi gajah Sumatra dari Aceh hingga lampung diperkirakan kurang dari 2.500 ekor.

"Tahun kemarin di Aceh ada beberapa kasus, terbanyak kasus kematian gajah liar ada di Riau. Di Sumut sudah masuk kategori krisis," jelasnya.

Perluasan perkebunan kelapa sawit di wilayah Sumatra mengancam populasi Gajah Sumatra (Elephas maximus) sehingga sebagian besar kasus kematian gajah diakibatkan oleh konflik dengan petani perkebunan.

Sunarto, Koordinator Konservasi Gajah dan Harimau WWF-Indonesia, mengatakan sepanjang tahun ini khusus di Riau tercatat sebanyak 7 ekor gajah sumatra mati diracun. Masih ada 3 ekor gajah lagi yang perlu dikonfirmasi akibat kematiannya. "Kematian gajah Sumatra 2 tahun terakhir lebih banyak kombinasi konflik lahan perkebunan dengan perburuan gading," ungkapnya kepada Bisnis, Rabu (11/12/2013).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gajah
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top