Negara Berkembang Minta Subsidi Pertanian 15%, Ini Alasannya

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyatakan Kelompok G33 mengharapkan peningkatan subsidi pertanian dari saat ini 10% menjadi 15% dari output nasional.
Bambang Supriyanto | 02 Desember 2013 21:09 WIB

Bisnis.com, NUSA DUA - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyatakan Kelompok G33 mengharapkan peningkatan subsidi pertanian dari saat ini 10% menjadi 15%  dari output nasional.

"Kelompok G33 meminta negara berkembang diberikan kesempatan untuk memberikan subsidi ke produk pertanian bukan sebesar 10%, tetapi 15% dari output nasional," ujarnya, seusai jumpa pers G33 di Nusa Dua, Bali, Senin (2/12).

Menurut Gita, permintaan tersebut juga diharapkan berdasar harga terbaru, karena selama ini masih menggunakan ketentuan yang diputuskan pada Putaran Uruguay pada 1986.

"Patokan harga tersebut sudah lama, harus dikalibrasi dengan harga sekarang atau 3 tahun terakhir," kata Gita.

G33 merupakan kumpulan 42 negara berkembang yang berasal dari Asia, Afrika, Amerika Selatan dan Tengah, serta sejumlah negara di Karibia.

Gita mengatakan sesungguhnya negara maju telah memberikan kompensasi penerapan subsidi tersebut, namun untuk waktu selama empat tahun saja.

"Ini durasi pengecualian, jadi jika melewati batas 10% hanya diperbolehkan selama 4 tahun," kata Gita.

Dia menambahkan Pemerintah Amerika Serikat dan Uni Eropa sesungguhnya telah memberikan subsidi besar kepada para petani di negara masing-masing.

Dengan demikian produk pertanian yang dihasilkan lebih berdaya saing tetapi melemahkan produk pertanian asal negara berkembang termasuk Indonesia.

Menurut Gita, Pemerintah AS memberikan subsidi pertanian kurang lebih sebesar US$100 miliar per tahun, sedangkan Pemerintah Uni Eropa memberikan subsidi pertanian sebesar 80 miliar euro per tahun.

Seperti diketauhi, melalui mekanisme Agreement on Agriculture (AoA) tahun 1994 di Uruguay dibahas tentang mekanisme pemberian subsidi pertanian bagi negara maju dan berkembang. Subsidi negara maju ditetapkan sebesar 5%, sedangkan negara berkambang 10%.

Namun, sejumlah negara maju masih melakukan subsidi domestik seperti AS dengan Farm Bill yang disahkan Mei 2002 dengan nilai US$180 miliar  sebagai tambahan subsidi sektor pertanian hingga 10 tahun ke depan.

Padahal berdasarkan data pada akhir Putaran Uruguay (1994) Amerika Serikat masih menyisakan subsidi ekspor US$594 juta, Austria menyisakan dana US$790 juta, Polandia mencapai US$493 juta, dan Kanada sebesar US$363 juta.

Sumber : Antara

Tag : gita wirjawan
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top